FILSAFAT ILMU; ONTOLOGI ILMU


FILSAFAT ILMU; ONTOLOGI ILMU
oleh: Kholilur Rohman
Rasa ingin tahu tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam sekitarnya dapat bersifat sederhana dan juga dapat bersifat kompleks. Rasa ingin tahu yang bersifat sederhana didasari dengan rasa ingin tahu tentang apa (ontologi), sedangkan rasa ingin tahu yang bersifat kompleks meliputi bagaimana peristiwa tersebut dapat terjadi dan mengapa peristiwa itu terjadi (epistemologi), serta untuk apa peristiwa tersebut dipelajari (aksiologi).
Ke tiga landasan tadi yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi merupakan ciri spesifik dalam penyusunan pengetahuan. Ketiga landasan ini saling terkait satu sama lain dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Berbagai usaha dilakukan orang untuk mencapai atau memecahkan peristiwa yang terjadi di alam atau lingkungan sekitarnya. Bila usaha tersebut berhasil dicapai, maka diperoleh apa yang kita katakan sebagai ketahuan atau pengetahuan.
Ontologi
Ontologi  berasal dari  bahasa  Yunani  yaitu : On/Ontos = ada, dan Logos = ilmu. Ontologi merupakan kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang terkenal dengan pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato dan Aristoteles. Thales pada akhirnya menyimpulkan, asal dari segala sesuatu adalah air.[1] Sekalipun hal tersebut menurut sains ditolak, namun setidaknya, Thales telah memberikan sumbangsih pengetahuan bahwa segala sesuatu tidak dikatakan satu sebagai satu. Sesuatu itu tidak bisa berdiri sendiri.
Ontologi sendiri merupakan cabang dari metafisika. Metafisika berasal dari bahasa Yunani – meta ta physika (sesudah fisika). Kata metafisika untuk saat ini memiliki berbagai arti. Metafisika bisa berarti upaya untuk mengkarakterisasi eksistensi atau realitas sebagai suatu keseluruhan. Istilah ini bisa juga berarti sebagai usaha untuk menyelidiki alam yang  berada di luar pengalaman atau menyelidiki apakah hakikat yang berada di balik realitas. Akan tetapi, secara umum dapat dikatakan bahwa metafisika adalah suatu pembahasan filsafat yang komprehensif mengenai seluruh realitas atau tentang segala sesuatu yang ada. Metafisika biasanya dibagi menjadi dua, metafisika umum yang disebut dengan ontologi dan metafisika khusus yang terdiri dari kosmologi, antropologi, teologi, dan eskatologi.[2]
Ontologi Ilmu
Ontologi melihat sesuatu yang ada. Ilmu dikatakan sebagai objek yang ada sekalipun abstraksi dari benda-benda yang kasat mata. Karena ontologi membahas tentang hakikat, dalam ontologi ilmu timbul pertanyaan, apakah yang ingin diketahui ilmu? Atau dengan perkataan lain, apakah yang menjadi bidang telaah ilmu? Bidang lain seperti agama apakah masuk dalam cakupan kajian ilmu yang berada di luar jangkauan manusia. Misalnya, kehidupan setelah mati. Sampai sekarang, kepercayaan itu hanya dogma agama. Kehidupan setelah sulit diketahui karena berada di luar jangkauan manusia. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa ilmu bisa dikatakan sebagai ilmu jika objek yang diketahui berada dalam jangkauannya. Sesuatu yang berada di luar jangkauan manusia tidak bisa disebut ilmu. Karena itulah, sifat kejadian yang terjangkau fitrah pengalaman manusia disebut empiris.
Pengetahuan keilmuan mengenai objek empiris ini pada dasarnya merupakan abstraksi yang disederhanakan. Penyederhanaan ini perlu, sebab kejadian alam yang sesungguhnya begitu kompleks, dengan sampel dari berbagai faktor yang terlibat di dalamnya. Ilmu bertujuan untuk mengerti mengapa hal itu terjadi, dengan membatasi diri pada hal-hal yang asasi. Atau dengan perkataan lain, proses keilmuan bertujuan untuk memeras hakikat objek empiris tertentu, untuk mendapatkan sari yang berupa pengetahuan mengenai objek tersebut.
Ada 3 hal yang berkaitan dalam mempelajari ontologi ilmu, yaitu: Metafisika, Asumsi dan problabilitas.
Metafisika
Metafisika umum, yang juga populer dengan nama ontologi, membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh dan sekaligus. Pembahasan itu dilakukan dengan membedakan dan memisahkan eksistensi itu. Pertanyaan-pertanyaan ontologis yang utama dan paling sering diajukan adalah sebagai berikut, apakah realitas atau ada yang begitu beraneka ragam dan berbeda-beda pada hakikatnya satu atau tidak? Apabila memang benar satu, apakah gerangan yang satu itu? Apakah eksistensi yang sesungguhnya dari segala sesuatu yang ada itu merupakan realitas yang tampak atau tidak? Dari pertanyaan tersebut muncul tiga teori ontologis yang terkenal, idealisme, materialisme, dan dualisme.[3] Sudut pandang melihat kenyataan atau realitas juga menghasilkan dua macam pendekatan, 1. Kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak? 2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, dan bunga mawar yang beraroma harum.[4]
Menurut Conny Semiawan, metafisika dimasukkan ke dalam ontologi filsafat ilmu. Dengan demikian, ontologi di dalam filsafat ilmu menyelidiki segala kemungkinan dari kenyataan yang terjadi.[5]
Metafisika ternyata dapat penentangan dari beberapa ilmuan, antara lain adalah yang menganut paham positivisme dari  paham positivisme logis dengan menyatakan bahwa metafisika tidak  bermakna. Alfred, J. Ayer menyatakan bahwa sebagian besar  perbincangan yang dilakukan oleh para filosof sejak dahulu sesungguhnya tidak dapat dipertanggungjawabkan dan juga tidak ada gunanya. Problem yang diajukan dalam bidang metafisika adalah problem semu, artinya permasalahan yang tidak memungkinkan untuk dijawab.[6] Dari aliran positivism logis yang menolak metafisika adalah Hume dan Kant. Mereka menganggap, metafisika hanya sekedar ilusi. [7]
Asumsi
Ilmu mengemukakan beberapa asumsi mengenai objek empiris. Ilmu menganggap bahwa objek-objek empiris yang menjadi bidang penelaahannya mempunyai sifat keragaman, memperlihatkan sifat berulang dan semuanya jalin-menjalin secara teratur. Sesuatu peristiwa tidaklah terjadi secara kebetulan namun tiap peristiwa mempunyai pola tetap yang teratur. Bahwa hujan diawali dengan awan tebal dan langit mendung, hal ini bukanlah merupakan suatu kebetulan tetapi memang polanya sudah demikian. Kejadian ini akan berulang dengan pola yang sama. Alam merupakan suatu sistem yang teratur yang tunduk kepada hukum-hukum tertentu. [8]
Secara lebih terperinci ilmu mempunyai tiga asumsi mengenai objek empiris. Asumsi pertama menganggap objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, umpamanya dalam hal bentuk, struktur, sifat dan sebagainya. Berdasarkan ini maka kita dapat mengelompokkan beberapa objek yang serupa ke dalam satu golongan. Klasifikasi merupakan pendekatan keilmuan yang pertama terhadap objek-objek yang ditelaahnya dan taxonomi merupakan cabang keilmuan yang mula-mula sekali berkembang. Konsep ilmu yang lebih lanjut seperti konsep perbandingan (komparatif) dan kuantitatif hanya dimungkinkan dengan adanya taxonomi yang baik.
Asumsi yang kedua adalah anggapan bahwa suatu benda tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. Kegiatan keilmuan bertujuan mempelajari tingkah laku suatu objek dalam suatu keadaan tertentu. Kegiatan ini jelas tidak mungkin dilakukan bila objek selalu berubah-ubah tiap waktu. Walaupun begitu tidak mungkin kita menuntut adanya kelestarian yang absolut, sebab alam perjalanan waktu tiap benda akan mengalami perubahan. Oleh sebab itu ilmu hanya menuntut adanya kelestarian yang relatif, artinya sifat-sifat pokok dari suatu benda tidak berubah dalam jangka waktu tertentu. Tercakup dalam pengertian ini adalah pengakuan bahwa benda-benda dalam jangka panjang akan mengalami perubahan dan jangka waktu ini berbeda-beda untuk tiap benda.
Determinisme  merupakan asumsi ilmu yang ketiga. Kita menganggap tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Tiap gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan urut-urutan kejadian yang sama. Namun seperti juga dengan asumsi kelestarian, ilmu tidak menuntut adanya hubungan sebab akibat yang mutlak sehingga suatu kejadian tertentu harus selalu diikuti oleh suatu kejadian yang lain. Ilmu tidak mengemukakan bahwa X selalu mengakibatkan Y, melainkan mengatakan X mempunyai kemungkinan (peluang) yang besar untuk mengakibatkan terjadinya Y. Determinisme dalam pengertian ilmu mempunyai konotasi yang bersifat peluang (probabilistik).[9]
Peluang
Salah satu referensi dalam mencari kebenaran, manusia berpaling kepada ilmu. Hal ini dikarenakan ciri-ciri dari ilmu tersebut yang dalam proses pembentukannya sangat ketat dengan alatnya berupa metode ilmiah. Hanya saja terkadang kepercayaan manusia akan sesuatu itu  terlalu tinggi sehingga seolah-olah apa yang telah dinyatakan oleh ilmu akan bersih dari kekeliruan atau kesalahan. Satu hal yang perlu disadari bahwa “…ilmu tidak pernah ingin dan tidak pernah berpretensi untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak”. Oleh karena itu manusia yang mempercayai ilmu tidak akan sepenuhnya menumpukan kepercayaannya terhadap apa yang dinyatakan oleh ilmu tersebut. Seseorang yang mengenal dengan baik hakikat ilmu akan lebih mempercayai pernyataan “ 80% anda akan sembuh jika meminum obat ini” daripada pernyataan “yakinlah bahwa anda pasti sembuh setelah meminum obat ini”.
Hal ini menyadarkan kita bahwa suatu ilmu menawarkan kepada kita suatu jawaban yang berupa peluang. Yang di dalamnya selain terdapat kemungkinan bernilai benar juga mengandung kemungkinan yang bernilai salah. Nilai kebenarannya pun tergantung dari prosentase kebenaran yang dikandung ilmu tersebut. Sehingga ini akan menuntun kita kepada seberapa besar kepercayaan kita akan kita tumpukan pada jawaban yang diberikan oleh ilmu tersebut.
Sebagaimana telah disampaikan terdahulu, bahwa Determinisme dalam pengertian ilmu mempunyai konotasi yang bersifat peluang (problabilistik). Statistika merupakan metode yang menyatakan hubungan probabilistik antara gejala-gejala dalam penelaahan keilmuan. Sesuai dengan peranannya dalam kegiatan ilmu, maka dasar statistika adalah teori peluang. Statistika mempunyai peranan yang menentukan dalam persyaratan-persyaratan keilmuan sesuai dengan asumsi ilmu tentang alam. Tanpa statistika hakikat ilmu akan sangat berlainan.[10]
Hakikat Ilmu; Perbedaan Ilmu, Sains, dan Pengetahuan
Ilmu sebagai ontologis pembahasan filsafat ilmu penting untuk diketahui hakikatnya. Dalam bahasa Indonesia, hubungan antara subjek akal dan objeknya memiliki banyak istilah. Ada yang disebut ilmu, pengetahuan, sains, opini, angan-angan, mimpi, dan lainnya. Setidaknya, ada tiga bahasan penting yang dibahas dalam filsafat ilmu, yaitu ilmu, pengetahuan dan sains. Tiga istilah yang hampir mirip perlu dijelaskan distingsinya masing-masing.
Dalam beberapa definisi, sangat jelas sekali sains (science) dibedakan dengan pengetahuan (knowledge). Namun tidak pernah jelas nampak perbedaan yang signifikan antara ilmu (‘ilm) dan sains. Kadang-kadang ilmu disamakan dengan sains. Di tempat lain, sains berbeda dengan ilmu.
Menurut Max Scheler , Pengetahuan dapat dirumuskan sebagai partisipasi oleh suatu realita dalam suatu realita yang lain, tetapi tanpa terjadinya modifikasi-modifikasi dalam kualitas yang lain itu, sebaliknya subyek yang mengetahui dipengaruhi. Atau dengan kata lain, pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai metafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu. Pencarian pengetahuan lebih cenderung trial and error dan berdasarkan pengalaman belaka.[11]
Pengetahuan yang sifatnya sederhana dibagi oleh Ockham menjadi dua. Pertama, pengetahuan intuitif (memandang, mengamati dan juga merenungkan) mengenali secara langsung dan tanpa ada keraguan bahwa sesuatu itu ada. Kedua, pengetahuan abstrak. Pengetahuan itu diperoleh dengan menarik ciri-ciri umum dari benda-benda yang diamati atau dicerap oleh indra. Pengetahuan ini menghasilkan konsep umum.[12] Sedangkan pengetahuan agamis yang bersumber dari wahyu tidak dimasukkan dalam kategori tersebut. Pengetahuan agama memang berada di luar akal budi manusia. Namun tidak bisa dikatakan pengetahuan wahyu ini sifatnya irasional, tetapi metarasional.
Sedangkan istilah ilmu dalam epistemologi islam mempunyai kemiripan dengan istilah science dalam epistemologi barat. Sebagaimana sains dalam epistemologi barat dibedakan dengan knowledge, ilmu dalam epistemologi islam dibedakan dengan opini (ra’y). sementara sains dipandang sebagai any knowledge, ilmu didefinisikan sebagai “pengetahuan tentang sesuatu sebagai adanya.” Hal ini bisa dilihat dari pengertian yang diberikan para tokoh teolog muslim.
اعتقاد الشيء على ما هو به  )بعض المتكلمين من المعتزلة)
معرفة المعلوم على ما هو به  (القاضي أبي بكر الباقلاني)
هو إدراك المعلوم على ما هو به  (الشيخ أبي الحسن الأشعري)
Ilmu bukan sembarang pengetahuan atau sekadar opini, melainkan pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Hal itu bisa dilihat dalam definisi yang disebutkan Ashley Montagu[13]. Menurutnya, Ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan studi dan percobaan untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang hal yang dikaji.[14] Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang disusun secara konsisten dan kebenarannya telah teruji secara empiris. Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia. Aktivitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu, dan akhirnya aktivitas metodis itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis.[15]
Sebagai pengetahuan yang sistematis, sains mungkin tidak begitu unik karena semua ilmu, seperti teologi dan metafisika, memang harus sistematis atau organized. Karakter sains baru muncul ketika pengetahuan sistematis tersebut harus muncul dari observasi. Observasi harus empiris. Tidak peduli apakah ia berhubungan dengan benda-benda fisik, kimia, biologi, astronomi, dan bahkan dalam bidang psikologi dan sosiologi.[16] Semua serba empiris. Agar bersifat empiris dan dapat terukur, objek-objek ilmu haruslah bersifat fisik, atau dalam istilah August Comte, positif. Sehingga sains akan bersifat positivistik.
Jika objek sains harus bersifat fisik atau positivistik, bagaimana dengan kedudukan matematika? Matematika sendiri dimasukkan sebagai sains. Materi-subjek matematika pada sendirinya bukan fisik, bagaimana matematika bisa dipandang sebagai sains. Ada dua jawaban untuk memuaskan bahwa matematika termasuk sains. pertama, objek matematika adalah abstraksi benda-benda fisik walaupun pada dirinya ia tidak lagi bersifat fisik. Kedua, hasil yang dihasilkan matematika bersifat pasti atau exact. Sifat kepastian inilah, dan bukan status ontologis objeknya, yang barangkali menjadi pembenaran atau justifikasi dimasukkannya matematika ke dalam kategori sains.[17]
Pengertian ilmu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sains. Hanya sementara ,sains dibatasi pada bidang-bidang fisik atau indrawi. Sedangkan Ilmu melampaui pada bidang-bidang nonfisik, seperti metafisika.[18] Objek-objek ilmu metafisika seperti tuhan, malaikat, jin, dan ruh adalah entitas yang sama riilnya dengan objek-objek fisik empiris.
Unscientific, Scientific, dan Non-Sciencetific
ilmu sangat berbeda sekali dengan unscientific, seperti firasat, sihir, dan lainnya. Sekalipun ilmu dan unscientific memiliki arah dan tujuan yang sama, yaitu mengetahui realita, keduanya memiliki perbedaan serius terhdapa metodologi terhadap objek. Menurut Bungin Ada dua pendekatan dalam keilmuan, yaitu pendekatan non ilmiah (unscientific) dan pendekatan ilmiah (scientific). Pendekatan non ilmiah adalah suatu pendekatan di mana orang menjawab dorongan ingin tahu dan mencari kebenaran dengan cara atau metode yang tidak ilmiah, seperti melalui cara yang tidak disengaja atau secara kebetulan, Secara trial and error (banyak menghabiskan waktu karena pendekatan coba-coba, dan Melalui otoritas seseorang sebagaimana  kebenaran dogmatis; misal dari pemuka agama; tokoh masyarakat dll. Sedangkan pendekatan ilmiah adalah suatu pendekatan dimana orang menjawab dorongan ingin tahu dan mencari kebenaran dengan cara atau metode ilmiah, yaitu berfikir kritis-rasional dan berdasarkan pengalaman serta melalui penelitian ilmiah (scientific research).
Sedangkan nonscientific sangat berbeda dengan ilmu baik dari metode ataupun tujuannya. Seni bukanlah ilmu karena tujuan ilmu adalah mencari sebuah kebenaran. Seni bukan ditujukan mencari kebenaran objek.[19]
Kajian tentang Ilmu dan Kajian Ilmiah
Pengertian ilmu ada tiga, ilmu sebagai proses (aktivitas ilmiah dan proses berpikir ilmiah), sebagai produk (kumpulan pengetahuan) dan metode ilmiah. [20]
  1. Ilmu sebagai produk
Ilmu sebagai produk merupakan sekumpulan informasi yang telah teruji kebenarannya dan dikembangkan berdasarkan metode ilmiah dan pemikiran yang logis. Dan ilmu terstruktur dari paradigma, teori, konsep dan asumsi, dan variable dan parameter.
2. Ilmu sebagai proses
Ilmu sebagai proses merupakan cara mempelajari realitas (kejadian) dan upaya memberi kejelasan tentang suatu mekanisme (jawaban terhadap pertanyaan mengapa dan bagaimana). Karakter ilmu dalam hal ini logico-emperical-verifikatif, generalized understanding, theoretical construction, dan menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana.
3. Ilmu sebagai metode
Ilmu sebagai metode, merupakan metode untuk memperoleh pengetahuan yang objektif dan dapat diuji kebenarannya. Metode adalah rangkaian cara dan langkah yang tertib dan terpola untuk menegaskan bidang keilmuan, seringkali disebut metode ilmiah. Metode ilmiah berkaitan erat dengan logika, metode penelitian, metode pengambilan sampel, pengukuran, analisis, penulisan hasil dan kesimpulan. Pendekatan adalah area pemilihan kajian.
Syarat Ilmu Pengetahuan
Ilmu memiliki system yang berbeda dengan lainnya. Untuk memperoleh pengetahuan, sebuah ilmu disyaratkan Sistematis, logis rasional, objektif dan prediktif
Sistematis maksudnya memiliki susunan dan aturan permainan yang jelas. Hal itu bisa digambarkan dalam susunan organisasi. Organisasi tersusun dari beberapa anggota yang memiliki tugas dan garis komando yang jelas. Di dalam ilmu pengetahuan terdapat hubungan sistematis antara tiga komponen, teori, metode dan objek ilmu pengetahuan. Jika salah satu unsur ini berubah, akan berubah pula ujung lainnya. Logis rasional adalah suatu cara penjelasan yang hasil penjelasannya tersebut dapat dicerna oleh akal sehat atau masuk akal. Objektif adalah kebenaran melekat pada bendanya dan bukan pada orang yang menilainya. Lawan kebenaran subjektif adalah subjektif. Prediktif berarti memiliki kemampuan untuk meramal atau memprediksi kejadian dikemudian hari. Ramalan dalam ilmu pengetahuan adalah ramalan yang didasarkan pada data autentik atau data yang dapat dipercaya kebenarannya. Ilmu mempunyai kemampuan untuk memperkirakan atau memprediksi sesuatu pada masa akan datang.[21]
Problem Objek Ilmu
Sebelum mengulas tentang problem-problem filsafat ilmu, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu objek-objek yang dipelajari dalam filsafat. Sebab, objek-objek inilah yang nantinya akan mengantarkan kita pada permasalahan / problem-problem filsafat ilmu.
  • Objek material, yaitu mengenai segala yang ada dan yang mungkin ada. Objek material terdiri dari permasalahan
    • tentang Tuhan, yang sama sekali diluar atau di atas jangkauan manusia
    • tentang  alam , yang belum atau tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa
    • tentang manusia, yang juga belum atau tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa
  • Objek formal, yaitu mencari keterangan sedalam-dalamnya sampai ke akar persoalan, sampai pada sebab-sebabnya dan mengapanya yang terakhir tentang obyek material filsafat, sepanjang mungkin yang ada pada akal budi manusia.[22]
Problem-Problem Filsafat Ilmu
Problem metafisis (teori mengenai apa yang ada)
Metafisika berasal dari bahasa Yunani, yaitu meta ta physika yang berarti segala sesuatu yang berada di balik hal-hal yang sifatnya fisik. Metafisika sendiri dapat diartikan sebagai cabang filsafat yang paling utama, yang membicarakan mengenai eksistensi (keberadaan) dan esensi (hakekat). Oleh karena itu, metafisika lebih mempelajari sesuatu atau pemikiran tentang sifat yang terdalam (ultimate nature) dari kenyataan atau keberadaan. Menurut Wolff, metafisika dapat diklasifikasikan ke dalam 2 kategori, yaitu :
  1. Metafisika Umum (Ontologi), yaitu metafisika yang membicarakan tentang “Ada” (Being).
  2. Metafisika Khusus, yaitu metafisika yang membicarakan sesuatu yang sifatnya khusus. Dalam metafisika khusus ini, Wolff membagi ke dalam 3 (tiga) kategori :
    i.      Psikologi, yang membahas mengenai hakekat manusia
    ii.      Kosmologi, yang membahas mengenai alam semesta
    iii.      Theologi, yang membahas mengenai tuhan[3]
    Dalam buku Pengantar Filsafat Ilmu, Liang Gie mengungkapkan, metafisika belakangan ini dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada. Perkembangan sesuatu ilmu sesungguhnya bertumpu pada sesuatu landasan ontologism tertentu. adalah teori yang mengenai apa yang ada. Segi filsafat ilmu ini mempersoalkan misalnya eksistensi dari entitas-entitas dalam suatu ilmu khusus atau status dari kebenaran ilmu.[4]
Secara spesifik problem-problem tentang metafisika suatu ilmu dicontohkan dalam pertanyaan berikut :
  • Obyek apa yang ditelaah ilmu?
  • Bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut?
Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?
Tiga contoh pertanyaan di atas bias juga disebut landasan ontologism. Ontologism merupakan cabang filsafat yang membahas tentang hakikat.[5] Persoalan hakikat suatu ilmu nantinya akan merujuk pada realita atau kenyataan. Yang selanjutnya menjurus pada masalah kebenaran. Kebenaran akan timbul bila orang telah dapat menarik kesimpulan bahwa pengetahuan/ ilmu yang dimilikinya telah nyata.
Komponen atau Struktur Fundamental Ilmu Pengetahuan
Dalam buku What is Science karya Archei J. Bahm di dalam bukunya Muhammad Muslih bahwa secara umum membicarakan enam komponen dari rancang bangun ilmu pengetahuan, artinya dengan enam komponen itu, sesuatu itu bisa disebut ilmu pengetahuan, yaitu:[23]
  1. Adanya masalah (problem)
Dalam persoalan ini, Archei J. Bahm menjelaskan bahwa tidak semua masalah menunjukkan ciri keilmiahan. Suatu masalah disebut masalah ilmiah jika memenuhi ‘persyaratan’, yaitu bahwa masalah itu merupakan masalah yang dihadapi dengan sikap dan metode ilmiah; Masalah yang terus mencari solusi; Masalah yang saling berhubungan dengan masalah dan solusi ilmiah lain secara sistematis (dan lebih memadai dalam memberikan pemahaman yang lebih besar). Untuk itu ia menawarkan, masalah yang dapat dikomunikasikan dan capable, yang disuguhkan dengan sikap dan metode ilmiah sebagai ilmu pengetahuan awal, sudah pantas dikatakan “masalah ilmiah” (scientific problem).
2. Adanya sikap ilmiyah
Sikap ilmiah, menurut Bahm paling tidak, meliputi enam karakteristik pokok, yaitu: keingintahuan, spekulasi, kemauan untuk objektif, kemauan utnuk menangguhkan penilaian, dan kesementaraan.
Pertama, Keingintahuan; Yang dimaksud di sini adalah keingintahuan ilmiah, yang bertujuan untuk memahami. Ia berkembang dan berjalan terus sebagai perhatian bagi penyelidikan, penelitian, pengujian, eksplorasi, petualangan dan eksperimentasi.
Kedua, Spekulatif yang penuh arti; Yaitu diawali dengan keingintahuan untuk mencoba memecahkan semua masalah yang ditandai dengan beberapa usaha, termasuk usaha untuk menemukan solusi, misalnya dengan mengusulkan satu hipotesa atau lebih. Artinya, spekulasi adalah sesuatu hal yang disengaja dan berguna untuk mengembangkan dan mencoba membuat berbagai hipotesa. Dengan demikian, spekulasi merupakan karakteristik yang esensial dalam sikap ilmiah.
Ketiga, Kemauan untuk objektif di sini Archei J. Bahm menjelaskan bahwa ‘objektifitas’ adalah salah satu jenis sikap subjektif. Dalam arti bahwa objektifitas bergantung kepada eksistensinya, tidak hanya eksistensi sebuah subyek, tetapi juga atas kemauan subyek untuk memperoleh dan mengikuti sikap objektif, dalam arti sifat untuk memahami sifat dasar objek itu sendiri, sejauh objek tersebut bisa dipahami dengan cara ini.
Keempat, Keterbukaan. Maksud sikap ini menyangkut kemauan untuk bersikap terbuka. Ini termasuk kemauan untuk mempertimbangkan semua saran yang relevan dengan hipotesis, metodologi, dan bukti yang berhubungan dengan masalah di mana seseorang bekerja. Sikap ini harus dibarengi dengan sikap toleran, dan bahkan menerima ide-ide baru, termasuk, tidak saja ide yang berbeda dengan ide-idenya, tetapi juga yang kontradiksi atu yang berseberangan dengan kesimpulan-kesimpulannya.
Kelima, Kemauan, untuk menangguhkan penilain atau menunda keputusan. Bila penyelidikan tentang suatu objek atau masalah tidak menghasilkan pemahaman atau solusi yang diinginkan, maka seseorang tidak boleh menuntut jawaban yang lebih dari apa yang ia peroleh. Sikap ilmiah menyangkut kemauan untuk menangguhkan penilaian sampai bisa diperolehnya semua bukti yang diperlukan.
Keenam, Kesementaraan. Sikap kesementaraan akan selalu meragukan validitas suatu hipotesa termasuk pengerjaannya, bahkan meragukan segala usaha ilmiah termasuk bidang keahlian seseorang. Meskipun pengalaman perorangan dan kelompok cenderung membenarkan keyakinan yang lebih kuat dan memandangnya sebagai kesimpulan.
3. Menggunakan metode ilmiyah
Sifat dasar metode ilmiah ini, menurut Archei J. Bahm harus dipandang sebagai hipotesa untuk pengujian lebih lanjut. “Esensi ilmu pengetahuan adalah metodenya”, sedang sisi yang lain, “Berkenaan dengan sifat dasar metode ilmiah. Archei J. Bahm berpendapat bahwa metode ilmiah itu adalah satu sekaligus banyak; dikatakan satu karena metode ilmiah, dalam penerapannya tidak ada persoalan, sedang dikatakan banyak, karena pada kenyataannya terdapat banyak jalan. Yaitu; a). masing-masing ilmu mempunyai metodenya sendiri-sendiri, yang paling cocok dengan jenis masalahnya sendiri. b). Setiap masalah particular memerlukan metode uniknya sendiri. c). Secara historis, para ilmuwan dalam bidang yang sama dalam waktu yang berbeda, memakai metode yang sama sekali berbeda, lantaran berbeda dalam perkembangan teoritis dan temuan teknologis. d). Perkembangan yang cepat dalam banyak ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin lama semakin saling bergantung dewasa ini, memerlukan perkembangan berbagai metodologi baru yang cepat, berkenaan dengan jenis masalah yang lebih ruwet dan dinamis. e). Siapa saja yang concern pada metode ilmiah harus mengakui bahwa metode ini mempunyai tahapan-tahapan yang membutuhkan metode yang berbeda pada setiap tahapannya.
Secara lebih khusus, metode ilmiah meliputi lima langkah, yaitu 1) Menyadari akan masalah; 2) Menguji masalah 3) Mengusulkan solusi 4) Menguji usulan atau proposal; dan 5) Memecahkan masalah.
4. Adanya aktifitas
Ilmu pengetahuan adalah apa yang dikerjakan oleh para ilmuwan, yang kemudian bisaa disebut dengan “riset ilmiah”. Riset demikian mempunyai dua aspek: individu dan social.
Aspek Individu; Ilmu pengetahuan adalah suatu aktifitas yang dilaku-kan oleh orang-orang khusus. Aspek Sosial; Aktivitas ilmiah mencakup lebih banyak dari apa yang dikerjakan oleh para ilmuwan khusus.
5. Adanya kesimpulan
Ilmu pengetahuan adalah pengetahun yang dihasilkan. Makanya ilmu pengetahuan sering dipahami sebagai kumpulan pengetahuan. Ide-ide adalah ilmu pengetahuan itu sendiri. kesimpulan pemahaman yang dicapai sebagai hasil pemecahan masalah—adalah tujuan ilmu pengetahuan. Kesimpulan adalah akhir atau tujuan yang membenarkan sikap, metode, dan aktifitasnya sebagai cara-cara. Kesimpulan adalah ilmu yang diselesaikan, bukan ilmu sebagai prospek atau dalam proses.
6. Adanya pengaruh
Ilmu pengetahuan adalah apa yang digarap oleh ilmu pengetahuan. Bagian apa yang digarap oleh ilmu pengetahuan tersebut, kemudian menimbulkan pengaruh beraneka ragam, yang dapat dihubungkan pada dua hal, yaitu; a). Pengaruh ilmu pengetahuan terhadap teknologi dan industri, yang disebut ilmu terapan. b). pengaruh ilmu terhadap atau dalam masyarakat dan peradaban.


[1] Drs. H. Mohammad Adib, MA., Filsafat Ilmu; Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu pengetahuan,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hal 72
[2] Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta:Kanisius,1996), hal 44
[3] Ibid, hal 45
[4] Drs. H. Mohammad Adib, MA., Filsafat Ilmu; Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu pengetahuan,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hal 72
[5] Susanto, A, Filsafat Imu : Suatu kajian dalam dimensi ontologis, epistimologis dan aksiologis. (Jakarta : PT Bumi Aksara,2011), hal. 93
[6] Mark B. Wordhouse, Berfilsafat, sebuah langkah awal, (Yogyakarta:Kanisius, 2000), Hal 218
[7] Yesmil Anwar dan Adang, Pengantar Sosiologi Hukum, (Jakarta:PT Grasindo, 2008), Hal 52
[8] Jujun S. Suriasumantri, ilmu dalam Perspektif, (Jakarta: Yayasan Obor Indoensia, 2009), Hal 7
[9] ibid
[10] Suriasumatri, Jujun, Filsafat Ilmu ;Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,2005), hal 79
[11] A. Supriyanto, Manajemen Pendidikan, (Malang: Universitas Negeri Malang, 2003)
[12] Simon Petrus L. Tjahjadi, Petualangan intelektual, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hal 156
[13] Drs. H Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, Bina Aksara, Jakarta, 1988, hlm. 19.
[14] Science is systematized knowledge derived from observation, study, and experimentation carried on order to determine the nature of principles of what being studied 
[15] Drs. H. Mohammad Adib, MA., Filsafat Ilmu; Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu pengetahuan,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hal 63
[16] Mulyadi Kartanegara, Pengantar Epistemologi Islam, (Bandung:Mizan,2003), hal 03
[17] ibid
[18] Mulyadi Kartanegara, Pengantar Epistemologi Islam, (Bandung:Mizan, 2003), hal 02
[19] Dr. Sholah Qonsoh, Filsafat al-‘ilm, (Pustaka keluarga, 2002), 58
[20] Nursalam, Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, (Jakarta: Salemba Medika, 2008), hal 5
[21]  Drs. Andreas Soeroso, Sosiologi 1, (Yudhistira,2008), Hal 4-5
[22] ibid
[23] Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu; Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta:Belukar, 2004), hlm. 35.

0 Komentar

Posting Komentar