Impor Beras, Mekkah dan Romantisme Kejayaan Lumbung Beras Demak


Impor Beras, Mekkah dan Romantisme Kejayaan Lumbung Beras Demak
Tulisan ini adalah status facebook teman saya, Islahul Falah, yang sekarang kuliah di Pascasarjan UNISNU Bogor. Ia aktif dalam beberapa kajian sejarah islam nusantara dan permasalahan sosial. Berikut statusnya,
E.P. Weiringa dalam sebuah artikel "A Monument Marking the Dawn of the Muslim Era in Java: Chronicles and Chronograms on the Grand Mosque of Demak" mengungkapkan bahwa alam pikir masyarakat Jawa -yang dikutip oleh Raffles dalam Bukunya "The Histori of Java"- menggambarkan sebuah translokasi dari epik Mahabarata, Astinapura digambarkan terletak di Pekalongan, Amarta di Jepara, kotanya Krishna ada di Pati, gunung Indrakilanya Arjuna adalah gunung Muria. Dan menurut legenda yang berkembang, kelima Pandawa dikuburkan di sekitar Masigit Agung (Masjid Agung). Begitupun ketika Islam berkembang di daerah pesisir Jawa Tengah (sekitar gunung Muria) legenda translokasi itupun berubah, Kudus dianggap sebagai Yerussalem, Pati sebagai Mesir, Kadilangu sebagai Madinah dan Kauman Demak sebagai Kota Makkah.
Legenda yang menyebut bahwa Demak sebagai pusat dari kosmologi Islam Jawa seperti halnya Kota Makkah sebagai pusat kosmologi Islam tidak bisa lepas dari cerita pembangunan Kota Demak oleh Raden Fattah yang akhirnya menjadi pintu pembuka bagi penyebaran agama Islam secara institusional dan masif di Nusantara.
Penyebaran agama Islam itu-pun tidak bisa lepas dari usaha perdagangan ekspor beras yang dilakukan oleh kesultanan Demak serta peran penting para Walisongo yang membantu Raden Fattah untuk menjalankan roda pemerintahan. Ditunjang oleh kekuatan Armada laut yang besar dengan ratusan kapal Jung super besar, Demak mampu mengimpor komoditas dagang andalannya berupa beras ke Malaka dan sebagian wilayah Sumatra.
Di tahun 1546 M, setelah sultan yang ke-tiga Trenggono wafat, Demak mengalami konflik dan perebutan kekuasaan sehingga Demak menjadi bawahan dari kesultanan Pajang, Sultan Hadiwijoyo, hingga Kesultanan Mataram Islam.
Sekitar tahun 1709, kolonialisme Belanda melalui VOC berhasil berhasil menguasai Demak sehingga VOC memperoleh banyak pasokan beras yang dibutuhkan untuk memasok Batavia, Ceylon dan Maluku. Di dalam praktik kolonialisasi dan memonopoli komoditas, perusahaan dagang Belanda ini mematikan sungai setelah panen padi agar harga komoditas padi tetap rendah, pedagang lainnya hanya bisa mengekspor beras dari Demak jika VOC bisa membeli beras secukupnya dengan harga terendah. Untuk menjalankan praktek kolonialismenya, VOC membangun gudang yang bernama Pagger Goet Begin van Damak di tahun 1725-1727.
Jika melihat dari sejarahnya, Demak dari dahulu memang telah menjadi lumbung beras, hingga akhirnya legenda tentang Demak yang disamakan dengan Mekkah memang bukan isapan jempol belaka. Selain terdapat Mesjid Agung Demak yang menjadi Masjid tertua dan pusat kosmologi Islam Jawa, doa Nabi Ibrahim yang meminta kepada Allah agar penduduk Makkah diberikan buah-buahan menjadi sangat penting bagi kemunculan awal dari legenda ini.
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
Penggalan surat Al-Baqorah 126 adalah doa Nabi Ibrahim as kepada kota Mekkah agar senantiasa diberikan keamanan dan buah-buahan dari hasil pertanian bagi penduduk Mekkah yang beriman kepada Allah dan hari akhir.
Setelah Indonesia merdeka dan memasuki zaman milenial seperti ini, harapan tentang kemandirian dan kemakmuran para petani dan buruh tani Demak belum juga terealisasi. Lepas dari sistem tanam paksa pemerintahan kolonial Belanda, ekologi pertanian Demak justru terancam oleh "Involusi Pertanian", sawah yang dulunya berbahu-bahu ukurannya harus mengalami pembagian kecil-kecil kepada para ahli waris, sedangkan ahli warisnya sendiri enggan untuk menjadi petani dan memilih menjadi pedagang yang lebih bisa diandalkan dalam memperbaiki perekonomian keluarga dan akhirnya sawahnya dijual kepada petani-petani yang memiliki modal besar.
Selain permasalahan itu, permasalahan yang dihadapi petani adalah ketergantungan benih dan pupuk ketika musim tanam mulai. Benih dan pupuk yang disediakan oleh pemerintah tak ubahnya seperti obat penghilang rasa sakit bagi penyakit kronis yang dihadapi oleh pertanian Indonesia. Ketergantuan petani terhadap bibit dan pupuk sangat mempengaruhi biaya produksi yang dikeluarkan oleh para petani, belum lagi ketika harga-harga bibit dan pupuk naik, petani harus mengeluarkan biaya ekstra dan harus rebutan pupuk dengan para petani lain. Tidak berhenti disitu saja, para petani harus iuran untuk mendapatkan ketersedian air guna mengairi sawah-sawahnya. Maklum saja, sawah-sawah di Demak kebanyakan adalah sawah tadah hujan. Jadi, ketika curah hujan sudah turun, sawah di Demak membutuhkan pasokan air dari aliran irigasi dari waduk Kedungombo. Selain faktor teknis tersebut, kelangkaan dan upah buruh tani yang semakin tinggi juga menjadi permasalahan bagi petani, walaupun buruh tani sendiri mempunyai masalahnya tersendiri. Dahulu untuk mengatasi permasalahan tersebut banyak petani ataupun buruh tani ketika menunggu musim panen tiba, tidak jarang yang merantau ke Semarang ataupunn kota-kota lain mencari penghidupan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka selama menunggu musim panen tiba.
Penderitaan para petani tidak berhenti disitu. Pasca panen, para petani juga masih menghadapi ancaman anjloknya harga gabah. Dan tentu ini tidak hanya berlaku bagi komoditas padi saja, hampir semua komoditas pertanian yang sedang mengalami panen Raya, harus terancam anjloknya harga komoditas. Disparitas harga jual dari petani dan konsumen sangat mencolok sekali, contohnya panen bawang merah baru-baru ini, harga jual dari petani hanya 4000-6000 Rp/Kg, sedangkan di Jabodetabek, harga bawang merah mencapai 8000/seperempat Kg. Sangat jauh sekali Perbedaan harganya, dan ini sangat merugikan petani.
Dan akhir-akhir ini, ada kabar bahwa pemerintah berencana import beras 500 ton beras dari luar negeri dengan alasan mengantisipasi lonjakan harga beras yang selalu naik. Kabar yang sangat menyakitkan bagi petani. Pasalnya harga gabah dari petani sangat sulit sekali untuk naik, sedangkan pemerintah mengklaim harga beras terus naik. Sesuatu hal yang sangat kontradiktif sekali dengan kenyataan yang dihadapi oleh petani padi akan terancam oleh anjloknya harga gabah mereka ketika panen raya.
Terlepas dari hitung-hitungan dari pemerintah yang tidak saya pahami, import beras jelas sesuatu yang sangat tidak bijak sekali mengingat keadaan petani yang sangat bergantung pada bibit dan pupuk yang bergantung pada pemerintah. Petani justru seakan dibiarkan dengan ketergantungan ini. Upaya untuk menggerakkan petani yang lebih mandiri dari segi riset dan teknologi untuk lepas dari jeratan ketergantungan seakan tidak ada sama sekali, belum lagi, sistem pengolahan dan pasca panen. Seakan pemerintah tutup mata dengan adanya disparitas harga yang selama ini dikeluhkan oleh petani. Pemutusan rantai-rantai kemiskinan inilah yang seharusnya digarap oleh pemerintah, bukan hanya kebijakan ketahanan pangan dengan cara import.
Potensi pertanian Demak ini sangat besar sekali kalau memang pemerintah dan juga petani (dan buruh tani) tentunya mampu bersinergi dengan seluruh daya upaya untuk memotong simpul-simpul kerumitan yang dialami oleh petani dan kekhawatiran kurangnya pasokan beras oleh pemerintah. Potensi besar dari sektor pertanian ini tergambar oleh agama Islam. Bagaimana agama Islam memperlakukan petani secara istimewa dengan zakat 2,5% yang harus dikeluarkan oleh petani penggarap sawah irigasi dan 10% bagi petani dengan sawah tadah hujan. Oleh karena itu, harapan saya-sebagai anak seorang petani-petani Demak harus menjadi petani mandiri dengan pikiran yang terbuka terhadap riset dan teknologi, sehingga para petani jangan sampai mencaci-maki pemerintahan ketika kebijakannya tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Marilah kita mengintrospeksi kelakuan kita, apakah yang telah kita lakukan terhadap sawah-sawah kita, sedangkan Allah terus memberi rizki lewat sawah kita sedangkan kita sering lupa untuk mengeluarkan kewajiban dari hasil sawah kita. Dan terakhir kami akan mengutip dawuhnya Imam Fakhruddin Arrazi dalam tafsir surat Al An'am 129 seperti ini:
الاية تدل علي ان الرعية متى كانوا ظالمين، فالله تعالي يسلط عليهم ظالما مثلهم فان ارادوا ان يتخلصوا من ذالك الامير الظالم فليتركوا الظلم. وعن مالك بن دينار: جاء في بعض كتب الله تعالي: انا الله مالك الملوك ، قلوب الملوك و نواصيها بيدي ، فمن اطاعني جعلتهم عليه رحمة ومن عصاني جعلتهم عليه نقمة، لا تشغلوا انفسكم بسب الملوك لكن ثوبوا الي اعطفكم عليكم.
Ayat al-An’am menunjukkan (suatu sunnatullah), selama rakyat berbuat lalim, Allah akan menjadikan pemimpin yang lalim pula. Jika rakyat ingin terlepas dari jeratan kedzaliman penguasa, hentikanlah perbuatan lalim itu.   
Dan terakhir, kita semestinya mempelajari filosofi Bulus yang ada di Mihrab Masjid Agung Demak. Bulus dalam arti "yen melebu kanti alus" Ini mirip beladiri bulus yang menyembunyikan kepalanya bila dalam keadaan genting sambil melihat saat yang tepat untuk menyerang musuh.Petani seharusnya juga mengalamalkan filosofi bulus dalam kehidupannya, dengan mengamati situasi yang berkembang sehingga mampu bertahan dengan cangkang kerasnya apabila merasa dirugikan.
bulus
Bagi guru ma'rifat, teknik bulus digunakan dalam mendidik anak-anaknya. Sang guru mengamati dari kejauhan, biar cepat anak didiknya menemukan kemandirian dan jati dirinya, serta dapat membentengi diri sendiri dari godaan hawa nafsunya, dan akhirnya dapat ma'rifatullah.
Wallahu A'lam.

0 Komentar

Posting Komentar