Karena Konflik, Sahabat Nabi Mengungsi ke Indonesia


Karena Konflik, Sahabat Nabi Mengungsi ke Indonesia
Pengasuh PP. al-Anwar Sarang Rembang ini sangat terkenal dengan keluasan pengetahuan sejarahnya, KH. Maimun Zuber. Beliau memang menekuni ilmu kesejarahan ketika mondok di Arab. Maklum, beliau menguasai dan paham sejarah Arab. Namun hal yang mengherankan dari beliau adalah, keluasan dan kedalaman mengenai sejarah Indonesia. Banyak hadirin yang geleng-geleng kepala keheranan mendengar cerita aneh dari beliau. Misalnya saja, beliau yang sudah lama di Jawa bercerita mengenai Madura yang mereka sebagai suku asli pun belum pernah dengar cerita tersebut.

Dalam pengajian Maulid Nabi di suatu daerah, beliau menceritakan sejarah masuknya sahabat Nabi ke Indonesia karena mengasingkan diri dari konflik antar sahabat. Cerita yang berbahasa Jawa diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Endi ono Islam kok mlebu nang negoro isih jaman shohabat, mesthi gedhe islame. Contohe Indonesia.
Naliko shohabat geger zaman Kholifah Sayyidin 'Ali, balane Sayyidina 'Ali pecah dadi papat:
1. Sing nentang Ali, dadi khowarij.
2. Isih Pro Sayyidina Ali, kadang-kadang malah nyimpang, contone Syiah.
3. Netral.
4. Ono sing Diarani Ashabul Safinah sing ninggalno Negoro Arab lewat teluk Persia ngrangsek tekan Medan.
Nang Medan ono kubur-kubur sing menurut syekh Yasin iku kuburan Ashabul Safinah. Yen ndelok Iki, Indonesia ketekan Islam isih zaman shohabat, lan aneh sebab sejone nang Indonesia ora kerono nyebarke agomo, ananging kerono ngungsi.
Jika Islam masuk ke suatu daerah di era sahabat, dapat dipastikan islam akan berjaya di tanah tersebut. Indonesia adalah contoh konkritnya. Ketika terjadi konflik era Khalifah ke-4, Sayyidina Ali K.w., barisan pasukan yang berpihak kepada Ali terpecah menjadi empat golongan.
Pertama, golongan yang pro dengan Sayyidina Ali. Sebagian anggota golongan ini malah menjadi sekte yang menyimpang sehingga muncullah sekte Syiah. Kedua, golongan yang netral. Ketiga, golongan yang menentang keputusan Ali. (red: mereka menentang Ali karena tidak menjadikan Alquran sebagai dasar putusan atau lebih dikenal dengan tahkim, padahal tidak ada satupun dari anggota mereka yang menjadi sahabat senior). Mereka dikenal dengan nama Khawarij (golongan yang keluar dari barisan Ali Kw.). Keempat, ashabus safinah (sahabat penumpal kapal). Mereka meninggalkan Arab lewat teluk Persia dan kemudian masuk ke Medan.
Menurut penuturan Syekh Yasin Isa al-Fadani, di Medan terdapat kuburan yang diduga kuat adalah kuburan ashabus safinah. Sahabat masuk ke Indonesia sejak awal tidak bertujuan menyebarkan agama islam, namun mereka mengasingkan diri dari konflik antar sahabat di tanah Arab.
Cerita ini dikutip dari status Kanthongumur

0 Komentar

Posting Komentar