Kiai Afif Membincang Problem Kemanusiaan sampai Distigma Liberal


Kiai Afif Membincang Problem Kemanusiaan sampai Distigma Liberal
Pengabdian Pesantren dan Masyarakat (PPM) adalah salah satu program Ma’had Aly PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo di akhir tahun. Tujuan dari program ini adalah mengembangkan potensi pesantren dan masyarakat, baik dalam peningkatan minat baca kitab, tulis menulis, dakwah atau manajemen pesantren. Sebelum santri Ma’had Aly berangkat, mereka akan mendapatkan petuah dari kiai-kiai. KH. Afifuddin, Naib Mudir Ma’had Aly memberikan arahan kepada peserta PPM.
Problem Manusia dan Alami
Menurut saya musykilat itu ada dua. Yang Pertama, musykilat thobi'iyyah, yang kedua adalah musykilat insaniyyah. Musykilat thobi'iyyah artinya problem yang terjadi secara alamiah, bukan karena faktor manusia. Seperti misalnya tadi disampaikan, diantara faktor kemiskinan karena letak geografis yang tidak mendukung, daerahnya naik turun, airnya tidak ada. Siapa yang disalahkan? Kan musykilat thobi'iyyah itu. Atau faktor bencana alam (Hawalik Thobi'iyyah)
Sekarang kita tidak perlu berbicara tentang problem yang sifatnya alamiah, yang perlu kita bicarakan adalah tentang persoalan musykilah yang sifatnya insaniyyah-yaitu manusia.
Musykilat insani banyak sekali. Yang Pertama adalah Musykilatul Aqidah, problem akidah. Persoalan akidah ini memicu dlu'ful iman, kelemahan iman. Yang kedua persoalan an-nadzru minal hayat, pandangan manusia terhadap kehidupan ini. Semestinya sesungguhnya manusia ini hidup untuk apa? Yang ketiga adalah bu'du 'anid dlomir. Banyak manusia yang tidak mempunyai hati nurani.
Dari mana timbulnya musykilatul aqidah ini. Ini berasal daripada dlu'fut tarbiyyah wat ta'lim, Lemahnya pendidikan dan pengajaran. Yang selanjutnya adalah musykilatul jahli, problem kebodohan.  Dengan sebab kebodohan maka manusia tidak tahu mana yang harus dia lakukan dan mana yang tak boleh ia lakukan. Masyarakat yang suka mandi telanjang disungai, kadang-kadang faktornya adalah karena tidak tahu bahwa itu tidak boleh, bahhwa itu tidak boleh. Banyak masyarakat yang tidak menunaikan zakat bukan karena dia kikir. Melainkan tidak tahu bahwa zakat itu wajib atau tidak tahu bahwa tebu itu wajib dizakati. Dan seterusnya.
Dengan adanya kebodohan ini seringkali wawasan orang dalam persoalan kegamaan sangat sempit. Dengan sempitnya wawasan keagamanan, antara lain cirinya adalah  apriori (red: beranggapan sebelum mengetahui keadaan sebenarnya). Apriori di dalam menyikapi perbedaan-perbedaan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Apriori disini ada dua; ada apriori di dalam menerima, ada  apriopri di dalam menolak.
Sering kali kalau masyarakat dihadapkan dengan masalah-masalah baru yang diangap aneh, langsung dianggapnya sebagai sesuatu yang salah dan sesat. Kan kadang-kadang begitu. Atau sebaliknya kalau ada hal baru yang dianggap menarik langsung diikuti. Jadi, apriori disini ada dua; Ada apriori untuk menerima, ada apriori untuk menolak. Di dalam menyikapi aliran-aliran keagamaan misalnya. Sesuatu yang dianggap aneh dan sesat karena memang tumbuh, langsung dianggap sebagai sesuatu yang tidak benar. Mestinya tidak boleh apriori kayak begitu.
Makanya saya sampai punya stigma liberal karena sampai saat ini belum punya sikap tentang hermeuneutik. Karena belum berpikir apa salah apa benar. Sementara orang-orang lain langsung menolak begitu. Ditolak, pokoknya ditolak. Padahal untuk menilai salah benar kan diperlukan perenungan yang mendalam.
Pada suatu saat dalam acara ramah-tamah di Solo. Saya diundang untuk membahas persoalan hermeuneutik di Jakarta. Jadi PBNU yang mengundang. Disandingkan dengan Prof. Amin Abdullah- Rektor UIN Yogjakarta. Gara-gara ikut membahas itu, yaa akhirnya saya dianggap sebagai orang liberal. Padahal pada saat itu saya tidak punya sikap. Apakah hermeunetik ini benar apa tidak. Bahkan sampai saat ini belum punya sikap. Karena memang tidak mau Apriori, baik untuk menolak maupun untuk menerima. Terkecuali persoalan-persoalan yang sudah sangat jelas itu tetap. Seperti kalau ditanya Wahidiyyah ini sesat apa ndak, saya tidak bisa menjawab. Karena belum mendalami tentang Wahidiyah itu. Tidak bisa menjawab. Terkecuali kalau perkara Syiah sedikit banyak mungkin sudah tahu. Apa jamaah tabligh? Saya ndak tahu. Jadi tidak berani mengatakan sesat atau mengatakan tidak sesat.

0 Komentar

Posting Komentar