Pandangan Kiai Afif Mengenai Zuhud dan Kemiskinan


Pandangan Kiai Afif Mengenai Zuhud dan Kemiskinan
Pengabdian Pesantren dan Masyarakat (PPM) adalah salah satu program Ma’had Aly PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo di akhir tahun. Tujuan dari program ini adalah mengembangkan potensi pesantren dan masyarakat, baik dalam peningkatan minat baca kitab, tulis menulis, dakwah atau manajemen pesantren. Sebelum santri Ma’had Aly berangkat, mereka akan mendapatkan petuah dari kiai-kiai. KH. Afifuddin, Naib Mudir Ma’had Aly memberikan arahan kepada peserta PPM. Berikut arahan Kiai Afif mengenai problem kemiskinan
Problem Kemiskinan
Sekarang yang Musykilat yang ketiga adalah musykilatul faqri, problem kemiskinan. Pertanyaannya, miskin itu positif apa negatif. Kalau negatif, mengapa di dalam kitab Ihya kok ada bab fadlilatul faqri? Kalau kita baca kitab Ihya akan ketemu disana "Kitabu fadlilatil faqri," keutamaan fakir.
Tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa miskin itu lebih baik daripada kaya, kaya belum tentu lebih baik daripada miskin. Tergantung orangnya. Kadang-kadang orang itu lebih baik miskin, kadang-kadang lebih baik kaya. Akan tetapi perlu disadarai bahwa kemiskinan itu punya potensi untuk menyeret seseorang pada hal-hal yang negatif. Sehingga di dalam hadits dikatakan "Kadal faqru yakunu /an yakuna kufron. Hampir kemiskinan itu berubah menjadi suatu kekafiran. Artinya punya potensi untuk itu.
Ya gara-gara tidak punya tempat mandi di rumah karena tak punya kemampuan membangun gedung ya terpaksa mandi disungai. Kalau mandinya disungai maka sangat potensial untuk buka aurat. Itu kan gara-gara kemiskinan.
Gara-gara kemiskinan seseorang tidak rajin melakukan shalat jum'at. Disaat orang-orang pergi ke masjid ia datang kesawah. Yang dikatakan juga mau ke jum'atan. Itu kan juga gara-gara kemiskinan juga.
Zuhud dan Miskin
Dan lagi, orang miskin itu tidak bisa zuhud. Bisa zuhud tapi zuhud terpaksa.  Padahal yang kita harapkan adalah zuhud yang penuh kesadaran. Yaitu Zuhud ikhtiyari bukan zuhud idlthirori, bukan zuhud terpaksa. Kenapa zuhud kok harus  kaya. Karena begini, ada dulu orang namanya Abdullah ibnul Mubarok. Masyarakat ketika itu mengatakan bahwa Ibnul Mubarok Zahidun. Abdullah ibnu Mubarok itu adalah orang yang zuhud. Ibnul mubarok mendengar perkataan masyarakat ia tidak terima karena merasa dirinya bukan orang zuhud. Lalu dia mengatakan:

الزاهد عمر بن عبد العزيز

Yang zuhud itu bukan saya, tapi Umar bin Abdul Aziz, (kenapa begitu?)

 إذ جاءته الدنيا راغمة فتركها وأما أنا فبماذا زهدت ؟

Dunia datang berbondong-bondong kepada Umar bin Abdul Aziz, akan tetapi ia tidak peduli dengan dunia yang banyak itu. Kemudian Amma ana fabima zahidtu. Kalau orang seperti saya  mau zuhud dengan apa, orang tak punya apa-apa. Jadi kesimpulannya zuhud harus kaya. Bisa saja tak kaya, tapi zuhud idhthirory.
Faktor Penyebab Kemiskinan
Kemudian kira-kira apa yang menjadi faktor yang menyebabkan seseorang itu menjadi miskin. Faktornya menurut saya ada dua, ada faktor thabi'i, ada  faktor insaniy. Ada yang alamiah, ada yang karena faktor manusianya. Yang perlu dibahas adalah yang karena faktor manusianya. Faktor manusia ini ada dua. Adakalanya Internal adakalanya eksternal. Ada kalnya orang jadi  miskin karena penyebabnya adalah dia sendiri. Tidak mau kerja atau mau kerja tapi tidak punya keahlian. Akhirnya jadi miskin. Adakalnya karena faktor orang lain. Orang lain yang menyebabkan orang lain menjadi miskin. Ini namanya kemiskinan sistemik namanya. Kebanyakan masyarakat indonesia ini miskinnya kan miskin itu. Gara-gara orang lain. Orang lain yang menyebabkan orang itu menjadi miskin. Karena distribusi yang tak beres sehingga kebanyakan orang yang menjadi miskin. Yang banyak bertanggung jawab ya negara.
Jadi, pada dasarnya, kemiskinan itu bukan negatif. Akan tetapi, bisa mengantarkan kepada hal-hal yang negatif. Kadang-kadang ada orang melacur karena miskinnya, main judi karena miskinnya melakukan maksiat karena miskinnya. Bahkan bisa jadi kafir karena miskinnya. Ketaatan kepada Allah kurang karena miskinnya. Dst.
Problem yang sangat problem menurut saya adalah bukan problem kemiskinan. Karena itu banyak yang alamiah. Yang paling problem adalah At-tafawuth al-waqi' bainal faqri wal ghina atau bainal aghniya' wal fuqoro. Artinya Ketimpangan dan kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin kebanyakan terjadi secara tidak alimiah. Bagaimana kita bisa menyelesaikan ketimpangan itu. Persoalan kaya miskin adalah persoalan yang alamiah. Miskin itu pasti ada kapanpun saja, di manapun kapanpun. Yang menjadi persoalan adalah ketimpangan yang sangat jauh itu yang harus kita diselesaikan.

0 Komentar

Posting Komentar