Hukum Menjawab Adzan ketika Mayit Dimakamkan



Adzan tidak hanya disunahkan untuk salat tetapi juga digunakan untuk hal lainnya.

Pertanyaan:

Bagaimana hukum menjawab adzan ketika mayit disemayamkan ke dalam kubur?

Jawab:

Mengumandangkan adzan saat memasukkan jenazah ke dalam kubur menurut pendapat yang muktamad hukumnya tidak sunnah. Oleh karena itu, menjawabnya juga tidak sunnah.

Sebagian ulama yang menyatakan sunnah adzan saat jenazah dimasukkan ke dalam kubur, sehingga jika ikut pendapat ini maka menurut Syaikh Ali Syabromalisi hukum menjawabanya juga sunnah. Namun menurut Imam Romli, menjawab adzan tetap tidak sunnah, karena menurut beliau adzan yang sunnah dijawab hanya adzan untuk sholat.

Referensi:

*الفقه على المذاهب الاربعة؛ ج ١، ص ٢٧٨

ﺗﻨﺪﺏ اﻹﺟﺎﺑﺔ ﻓﻲ اﻷﺫاﻥ اﻟﻤﺸﺮﻭﻉ، ﺃﻣﺎ ﻏﻴﺮ اﻟﻤﺸﺮﻭﻉ ﻓﻼ ﺗﻄﻠﺐ ﻓﻴﻪ اﻹﺟﺎﺑﺔ، ﻭﻫﺬا ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ، ﺇﻻ ﻋﻨﺪ اﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ.

Disunahkan menjawab adzan yang disyariatkan. Sedangkan adzan yang tidak disyariatkan tidak sunnah untuk dijawab. Ini adalah kesepakatan semua mazhab kecuali mazhab Malikiyah.

*تحفة المحتاج؛ ٥، ص ٥١*

قَدْ يُسَنُّ الْأَذَانُ لِغَيْرِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي آذَانِ الْمَوْلُودِ ، وَالْمَهْمُومِ ، وَالْمَصْرُوعِ ، وَالْغَضْبَانِ وَمَنْ سَاءَ خُلُقُهُ مِنْ إنْسَانٍ ، أَوْ بَهِيمَةٍ وَعِنْدَ مُزْدَحَمِ الْجَيْشِ وَعِنْدَ الْحَرِيقِ قِيلَ *وَعِنْدَ إنْزَالِ الْمَيِّتِ لِقَبْرِهِ قِيَاسًا عَلَى أَوَّلِ خُرُوجِهِ لِلدُّنْيَا* لَكِنْ رَدَدْته فِي شَرْحِ الْعُبَابِ وَعِنْدَ تَغَوُّلِ الْغِيلَانِ أَيْ تَمَرُّدِ الْجِنِّ لِخَبَرٍ صَحِيحٍ فِيهِ ، وَهُوَ ، وَالْإِقَامَةُ خَلْفَ الْمُسَافِرِ ( قَوْلُهُ : خَلْفَ الْمُسَافِرِ ) يَنْبَغِي أَنَّ مَحَلَّ ذَلِكَ مَا لَمْ يَكُنْ سَفَرَ مَعْصِيَةٍ فَإِنْ كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يُسَنَّ ع ش

Kadang-kadang mengumandangkan adzan selain panggilan untuk salat disunnahkan. Seperti adzan untuk bayi yang baru lahir, orang yang bersedih, orang yang gila, orang yang sedang marah, orang atau hewan yang tindakannya sangat meresahkan, tentara yang sudah terdesak, ketika ada kebakaran, dan ketika ada orang yang kesurupan jin—sebagaimana perintah hadis.

Ada yang berpendapat, mengumandangkan adzan disunahkan ketika menurunkan mayat di liang lahat karena diqiyaskan dengan bayi yang baru keluar dari rahim ibu.

Adzan bagi orang yang akan bepergian, muadzin disunahkan berdiri di belakang orang tersebut. Adzan tersebut disunahkan selama bukan bepergian karena maksiat.

*إِعَانَةُ الطَّالِبِيْن؛ جُزْ 1، ص 230*

وَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ يُسَنُّ الأَذَان عِنْدَ دُخُولِ القَبْرِ، خِلاَفًا لِمَنْ قَالَ بِسنيَتِهِ قِيَاسًا لِخُرُوجِهِ مِنَ الدُنْيَا عَلَى دُخُولِهِ فِيْهَا. قَالَ إبنُ حَجَرٍ: وَرَدَدْتُهُ فِى شَرْحِ العُبَابِ، لَكِنْ إِذَا وَافَقَ إِنْزَالُهُ القَبْرَ أَذَانٌ خَفَّفَ عَنْهُ فِى السُّؤَالِ.

Ketahuilah bahwa tidak disunahkan adzan ketika memasukkan mayat ke dalam kubur. Ada yang mengatakan sunnah karena dianalogikan dengan (bayi) yang masuk ke dunia, dengan (mayat) yang baru keluar dari dunia (juga disunahkan adzan). Menurut Ibnu Hajar pendapat tersebut ditolak sebagaimana yang dijelaskan dalam Syarah Al Ubab. Namun, ketika mayat tersebut masuk ke dalam kuburan bertepatan dengan adzan (untuk shalat) dikumandangkan hal tersebut bisa meringankan pertanyaan malaikat padanya.

حاشية الجمل ج ١ صـــ ٣٠٩

وَلَا تُسَنُّ إجَابَةُ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ فِي أُذْنَيْ الْمَوْلُودِ وَلَا عِنْدَ تَغَوُّلِ الْغِيلَانِ وَنَحْوِ ذَلِكَ

Tidak disunnahkan menjawab adzan dan iqomah di dua telinganya bayi dan juga ketika ada orang yang kesurupan dan semisalnya.

حاشية إعانة الطالبين ج ١ صـــ ٢٧٧

(قوله: وسن لسامعهما) أي الأذان والإقامة. قال ع ش: هو شامل للأذان للصلاة ولغيرها، كالأذان في أذن المولود وخلف المسافر. ويوافقه عموم حديث: إذا سمعتم المؤذن إلخ. فإن المتبادر أن اللام فيه للاستغراق، فكأنه قيل: إذا سمعتم أي مؤذن، سواء أذن للصلاة أو لغيرها. لكن نقل عن م ر أنه لا يجيب إلا أذان الصلاة. وعليه فاللام في قوله: إذا سمعتم المؤذن، للعهد. فليراجع. اهـ وقوله: فليراجع. في سم: فرع. لا تسن إجابة أذان نحو الولادة وتغول الغيلان. اهـ

Disunnahkan menjawab bagi orang yang mendengar adzan dan iqomat, sebagaimana azan ketika bayi dilahirkan atau adzan di belakang orang yang akan bepergian. Ini sesuai dengan keumuman hadits: “ketika kamu mendengar suara muadzin…..”dst. Huruf al pada kata al-muadzin adalah al istighroq (menyeluruh). Seakan-akan Nabi bersabda, ketika engkau mendengar muadzin, baik adzan untuk shalat atau lainnya.

Dinukil dari M Romli, adzan tidak wajib dijawab kecuali adzan shalat. Menurutnya, al pada al-muadzin adalah al lil ‘ahdi (yang sudah diketahui).

Cabang: tidak disunahkan menjawab adzan untuk kelahiran bayi dan kesurupan jin.

 

0 Komentar

Posting Komentar