Membuat Setan Kurus



Manusia harus mampu mengontrol setiap keinginan yang terlintas dalam dirinya. Keinginan tersebut bisa jadi datang dari bisikan malaikat dan bisa pula muncul dari Setan. Membedakannya sangatlah sulit dan rumit. Manusia memerlukan perenungan yang mendalam dengan menggunakan mata batinnya (‘ainul bashirah), bukan yang lain.  Mata batin yang melekat pada hamba-hamba Allah Swt yang bertaqwa dan mendalam ilmunya yang dapat menyingkap bisikan tersebut. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُون

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa bisikan/was-was dari Setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-‘Araf: 201)

Ayat ini secara jelas mengatakan bahwa bisikan Setan diketahui oleh orang yang bertaqwa. Tentu manusia yang tidak bertaqwa tidak akan pernah mampu untuk itu. Mereka senantiasa mengikuti tabiatnya untuk tunduk pada tipu daya Setan dengan mengikuti hawa nafsunya. Akibatnya mereka akan melakukan banyak kesalahan sehingga akan cepat dibinasakan. Tipu daya Setan menjadikan mereka melakukan perbuatan buruk yang diduganya baik.  Mereka diperumpamakan oleh Allah Swt dalam firman-Nya:

وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ

Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.(QS. Az-Zumara: 47)

Ilmu “Mu’amalah” yang  paling mendalam adalah mengetahui tipu daya Setan. Hal yang demikian ini hukumnya fardhu ‘ain (kewajiban personal) bagi setiap orang. Namun sangat disayangkan mereka justru sibuk belajar ilmu yang menjerumuskan pada tipu daya Setan. Ilmu yang membuat manusia lupa untuk bermusuhan dengan Setan dan mengabaikan diri untuk menjahuinya. 

Manusia tidak akan pernah bisa selamat dari tipu dayanya kecuali menutup  pintu-pintu bisikan  Setan (khawatirus Syaithan).  Pintu-pintu khawatir Setan adalah alat indra yang lima (al-hawas al-khams). Pintu-pintu indra yang lima itu adalah syahwat dan sesuatu yang berhubungan dengan dunia.

Pintu indra yang lima dapat ditutup dengan cara ber-khalwat (menyendiri) dalam ruangan yang gelap, sedangkan mengosongkan hati dari harta dan keluarga dapat mempersempit pintu masuk was-was dari dalam diri manusia. Walaupun demikian, pintu masuk tersebut tetap ada dalam diri manusia selama ‘angan-angan’ masih tetap melekat pada diri manusia. Hal ini tentu tidak dapat dihilangkan kecuali dengan cara dzikrullah.

Dengan demikian, manusia harus selalu berusaha keras (bermujahadah) untuk berzikir kepada Allah Swt. Ini adalah mujahadah yang tidak akan pernah bisa berakhir. Selama kehidupan masih ada, maka selama itu pula pintu-pintu Setan akan tetap terbuka untuk selalu menggoda manusia. Maka selama itu pula mujahadah dilakukan.

Setan tidak pernah istirahat menggoda manusia. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa  salah seorang laki-laki bertanya kepada Hasan, “Wahai Aba Sa’id, Apakah Setan tidur?”  Kemudian ia tersenyum seraya berkata, “Andaikan setan tidur, niscaya kita istirahat (untuk mujahadah)”. Dengan demikian, orang mukmin tidak bisa melepaskan diri dari Setan. Walaupun begitu, orang mukmin bisa menolak dan membuat Setan menjadi lemah.  Dalam sebuah hadis nabi bersabda,

إن المؤمن ينضى شيطانه كما ينضى أحدكم بعيره في سفره

Sesungguhnya orang mukmin itu membuat kurus setannya, sebagaimana seseorang diantara kamu membuat kurus untanya dalam perjalanan.

Ibnu Mas’ud berkata, “Setan manusia itu kurus”. Qais bin Hajjaj berkata juga, “Setan berkata kepadaku, ‘aku (Setan) masuk kepada dirimu (qais) bagaikan unta yang gemuk’. Namun aku sekarang kurus bagaikan burung kutilang’”. Qais bertanya kepada Setan, “Kenapa kok bisa kayak gitu?”  Setan berkata, “Kamu telah menyiksaku dengan zikir kepada Allah”.

Orang bertaqwa akan senantiasa menutup  dan menjaga pintu Setan. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang bertaqwa, aminnn.

Review diskusi Kitab Ihya’ Ulumiddin Kamaly Komisariat Jember

9 September 2018 Di PP. Nurina Bangsal Sari Jember

Tabik: donysaputra

Sumber: mahad-aly.sukorejo.com

0 Komentar

Posting Komentar