Menulis Alquran dengan Huruf Latin

 


Sering kita temukan, beberapa Alquran sekarang ditambahkan tulisan latin di bawah tulisan Arab Alquran. Hal itu digunakan untuk mempermudah para pembaca Alquran yang tidak tahu dengan tulisan Arab. Dalam praktiknya, tidak semua pembaca tulisan latin tersebut benar dalam membaca, bahkan banyak terjadi kesalahan, karena tidak bisa membedakan makhraj huruf dan mereka juga tidak diajarkan cara membaca al-quran dengan tulisan latin. Selain di mushaf al quran, beberapa majalah atau buku-buku juga menggunakan pengejaan Alquran dengan tulisan latin dan dengan kaidah transliterasi yang berbeda-beda.

Masihkah pengejaan tulisan Arab pada Alquran atau Asmaul adzom lainnya dengan tulisan latin sama hukumnya dengan tulisan Arab? Bagaimana hukum menulis Alquran dengan tulisan latin?

Hukum Menulis Alquran dengan Latin

Pada dasarnya, kaum muslimin diharapkan belajar Alquran dari tulisan Arab langsung. Untuk menulis Alquran pun tidak sembarangan. Alquran harus ditulis sesuai dengan tulisan rasm Utsmani. Tulisan latin pun tidak bisa mewakili atau menggambarkan cara pengucapan makhraj bahasa Arab dengan baik dan benar. Makhroj huruf Alquran tidak bisa diajarkan secara tulisan. Makhraj Alquran itu harus diajarkan secara verbal. 

Imam Malik dalam kitab I’anah al-Thalibin pernah ditanya, “Apakah mushaf itu ditulis dengan model huruf-huruf sebagaimana yang dibuat oleh orang-orang?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali sesuai dengan tulisan model yang pertama, yakni seperti yang ditulis oleh al-Imam yang termuat dalam Mushaf Usmani.

Karena tidak mungkinnya tulisan latin mewakili makhroj huruf alquran secara keseluruhan, maka beberapa ulama mewanti-wanti agar mereka tidak membaca dari Alquran latin. Dalam kitab al-Qolyubi disebutkan,

وَيَجُوزُ كِتَابَتُهُ لَا قِرَاءَتُهُ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ، وَلَهَا حُكْمُ الْمُصْحَفِ فِي الْمَسِّ وَالْحَمْلِ

“Diperbolehkan menulis Al-Qur’an dengan selain huruf Arab (Latin semisal), tapi tidak boleh membacanya dengan selain bahasa Arab. Baginya berlaku pula hukum sebagaimana menyentuh dan membawa mushaf.” (Al-Qalyubi dan Amirah, Hasyiyatâ Qalyubi wa ‘Amîrah, [Darul Fikr, Beirut, 1995], juz 1, halaman 41).

Dalam keterangan di atas, Al Qolyubi memperbolehkan Alquran ditulis dengan latin, namun jangan sampai tulisan tersebut dibaca untuk melantunkan Alquran. Tulisan latin sebaiknya digunakan sarana belajar, bukan untuk dibaca itu sendiri. Tentu kalau membaca tulisan latin tersebut sudah benar tidaklah apa-apa.

Status Alquran yang Ditulis dengan Latin

Hampir semua ulama sepakat, Alquran yang diejakan atau ditulis dengan bahasa latin itu hukumnya sama dengan Alquran yang ditulis dengan huruf Arab. Menurut ar-Ramli, tulisan latin atau lainnya itu sama hukumnya dengan tulisan Alquran dengan huruf Arab, karena huruf hanya sebagai sebuah petunjuk, petanda, atau lambang bukan esensi sebenarnya. 

حاشية الجمل شرح المنهج الجزء الأول ص : 76

(فَائِدَةٌ) سُئِلَ الشِّهَابُ الرَّمْلِيُّ هَلْ تَحْرُمُ كِتَابَةُ الْقُرْآنِ الْعَزِيزِ بِالْقَلَمِ الْهِنْدِيِّ، أَوْ غَيْرِهِ فَأَجَابَ بِأَنَّهُ لَا يَحْرُمُ لِأَنَّهَا دَالَّةٌ عَلَى لَفْظِهِ الْعَزِيزِ وَلَيْسَ فِيهَا تَغْيِيرٌ لَهُ بِخِلَافِ تَرْجَمَتِهِ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ لِأَنَّ فِيهَا تَغْيِيرًا.

 

Imam Ar Ramli suatu ketika ditanya: apakah menulis Alquran dengan tulisan India atau selainnya itu haram?

Imam ar-Romli menjawab:  Menulis Alquran dengan bahasa lain tidak haram, karena bahasa tersebut masih menunjukkan lafadz al-quran dan pula tidak ada perubahan dengan penulisan tersebut, berbeda dengan menerjemah Alquran dengan bahasa lain selain Arab karena itu bisa merubah Alquran

Karena huruf latin memiliki hukum yang sama dengan huruf Arab, konsekuensinya, Alquran yang ditulis latin itu sama dengan Alquran yang ditulis dengan huruf Arab. Tulisan tersebut tidak boleh dibawa ke WC, disentuh tanpa wudhu, atau ditaruh di tempat yang remeh. 

حاشية الجمل شرح المنهج الجزء الأول ص : 76

وَعِبَارَةُ ق ل عَلَى الْمَحَلِّيِّ وَتَجُوزُ كِتَابَتُهُ لَا قِرَاءَتُهُ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ وَلِلْمَكْتُوبِ حُكْمُ الْمُصْحَفِ فِي الْحَمْلِ، وَالْمَسِّ انْتَهَتْ.

Menurut al-Qolyubi syarah al-Mahalli boleh menulis Alquran dengan selain bahasa Arab tapi tidak boleh dibaca. Sedangkan tulisan latin Alquran itu hukumnya sama dengan mushaf, baik dalam cara membawanya atau menyentuhnya. 

Majalah atau Undangan yang terdapat Tulisan Alquran

Pada prinsipnya, menyentuh alquran harus dalam keadaan suci atau berwudlu. Alquran tidak boleh disentuh oleh orang yang hadats, baik sampulnya, di bagian kertas kosong, atau wadah alquran. Jika Alquran itu ditulis dalam buku, majalah, atau di koran, seseorang tetap boleh membawa atau menyentuhnya, karena huruf Alquran tidak lebih banyak dari lainnya.

Terjemah alquran dari bahasa arab ke bahasa lain, seperti Indonesia bukanlah Alquran, sehingga seseorang diperbolehkan menyentuk terjemah Alquran.

Yang perlu diperhatikan adalah, dilarang menyentuh tulisan alquran secara langsung yang ditulis dibuku atau kertas. Misal jari anda menyentuh tulisan yang disitu ditulis basmalah misalnya. Tulisan alquran tetap tidak boleh disentuh baik ditulis dengan huruf arab atau latin.

Perlu diperhatikan juga, jangan sembarangan menulis alquran atau basmalah di undangan. Menurut mazhab syafi’iyah, menulis alquran dalam surat undangan itu makruh karena bepotensi diletakkan sembarangan.

كِتَابَةُ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَائِطِ- ذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَبَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ إِلَى كَرَاهَةِ نَقْشِ الْحِيطَانِ بِالْقُرْآنِ مَخَافَةَ السُّقُوطِ تَحْتَ أَقْدَامِ النَّاسِ، وَيَرَى الْمَالِكِيَّةُ حُرْمَةَ نَقْشِ الْقُرْآنِ وَاسْمِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى الْحِيطَانِ لِتَأْدِيَتِهِ إِلَى الاِمْتِهَانِ. وَذَهَبَ بَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ إِلَى جَوَازِ ذَلِكَ

“Menurut Syafi’iyyah dan sebagian Hanafiyyah berpendapat  penulisan Al-Qur’an di tembok hukumnya makruh misal dengan mengukir tembok dengan Al-Qur’an. Ini khawatir akan jatuh terinjak kaki-kaki orang banyak. Malikiyyah berpendapat haram mengukir Al-Qur’an dan nama Allah di atas tembok sebab akan mendatangkan penghinaan terhadap Al-Qur’an. Sedangkan sebagian pengikut Hanafiyyah menyatakan boleh-boleh saja.” (Al-Maûsu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Dârus Salâsil, 1404-1427 H], juz 16, halaman 234).

 

Wallahu a’lam

.

0 Komentar

Posting Komentar