Era kejahiliyahan adalah era kemerosotan moral dan agama.
Diskriminasi wanita, anak yang disembelih untuk para berhala, perang antar suku
dan lain-lain sudah jadi hal lazim dan lumrah. Era ini digambarkan begitu keji.
Bahkan seakan-akan tidak ada orang yang bermoral. Hal itu sebetulnya tidak
benar. Masih banyak orang berpikir jernih dan memegang teguh agama langit yang
diturunkan kepada Nabi Ibrahim As. Mungkin karena sifat lokalitas ajaran Rasul
yang diutus kepada kaumnya, arab jahiliyah masih memegang teguh kepercayaan
Nabi Ibrahim, seperti khitan, haji, dan umrah. Hampir sulit sekali agama lain
seperti agama Nasrani dan Yahudi masuk mengubah keberagaman arab jahiliyah.
Sekalipun misionaris kristen tak kalah pada zaman sekarang. Ikatan suku dan
kepercayaan nenek moyang juga begitu teguh dipertahankan. Namun banyak ajaran
Nabi Ibrahim yang diselewengkan oleh orang sendiri.
Seseorang yang sering digambarkan masih memegang teguh ajaran
monoteisme adalah Waraqa Bin Naufal. Seseorang yang dikenal sebagai pendeta
Nasrani. Ia membenarkan kabar bahwa Nabi Muhammad didatangi wahyu melalui
perantara malaikat Jibril. Cerita singkatnya,
Setelah Nabi datang dari penyendiriannya di Gua Hira, ia pulang
ke rumah sambil kedinginan. Istri beliau, siti Khadijah cemas sedemikian rupa.
Kemudian ia pergi menjumpai saudara sepupunya (anak paman), Waraqa bin Naufal,
sepupu Khadijah. Seperti sudah disebutkan, Waraqah adalah seorang penganut
agama Nasrani yang sudah mengenal Bible dan sudah pula menerjemahkannya
sebagian ke dalam bahasa Arab. Ia menceritakan apa yang pernah dilihat dan
didengar Nabi Muhammad dan menceritakan pula apa yang dikatakan Nabi Muhammad
kepadanya, dengan menyebutkan juga rasa kasih dan harapan yang ada dalam
dirinya. Waraqah berpikir sebentar, kemudian katanya: "Maha Kudus Ia,
Maha Kudus. Demi Dia yang memegang hidup Waraqah. Khadijah, percayalah, dia
telah menerima Namus Besar[1] seperti yang pernah
diterima Nabi Musa. Dan sungguh dia adalah Nabi umat ini. Katakan kepadanya
supaya tetap tabah."
Sesudah peristiwa itu, pada suatu hari Nabi Muhammad pergi akan
mengelilingi Ka'bah. Di tempat itu Waraqa bin Naufal menjumpainya. Sesudah
Muhammad menceritakan keadaannya, Waraqa berkata: "Demi Dia Yang
memegang hidup Waraqa. Engkau adalah Nabi atas umat ini. Engkau telah menerima
Namus Besar seperti yang pemah disampaikan kepada Musa. Pastilah kau akan
didustakan orang, akan disiksa, akan diusir dan akan diperangi. Kalau sampai
pada waktu itu aku masih hidup, pasti aku akan membela yang di pihak Allah
dengan pembelaan yang sudah diketahuiNya pula." Lalu Waraqa
mendekatkan kepalanya dan mencium ubun-ubun Nabi Muhammad. Nabi Muhammad pun
segera merasakan adanya kejujuran dalam kata-kata Waraqa itu, dan merasakan
pula betapa beratnya beban yang harus menjadi tanggungannya.[2]
Di daerah Makkah masih banyak yang memegang prinsip agama nabi
Ibrahim di antaranya Zaid Bin Amr bin Nufail[3] (paman Umar bin
Khattab), Abdullah bin Jahs (anak dari saudara perempuan Hamzah bin Abdul
Mutholib), Ka’ab bin Luay bin Gholib (Buyut Nabi Muhammad Saw). Banyak anggapan
dari para pakar Abdul Mutholib (kakek Nabi Muhammad Saw) juga menjadi penerus
agama Nabi Ibrahim As.[4] Ayah dan ibu nabi
Muhammad sekalipun tidak disebut-sebut sebagai pemeluk agama Nabi Ibrahim,
namun dalam suatu riwayat, orang tua Nabi ini tidak mau mengikuti budaya-budaya
arab jahiliyah, misalnya menyembah patung dan berzina. Orang tua nabi Muhammad
hidup berbeda dari teman sebayanya. Mereka terkenal orang yang menjaga moral
dan sikapnya.
Orang-orang yang memegang teguh agama Nabi Ibrahim tidak hanya
di Makkah, di Yatsrib atau sekarang Madinah ada Abu Amir ar-Rahib, dan di Thaif
ada Umayyah bin Abi as-Shalti (ahli syair sekaligus pemimpin orang Tsaqif).
Umayyah ini memang tidak suka menyembah berhala. Ia pernah mengatakan, bahwa
Nabi yang dijanjikan datang itu akan lahir pada zamannya. Saat diceritakan
bahwa Nabi Muhammad telah muncul dan menyebarkan agamanya, ia malah kufur
karena iri pada beliau.[5]
Selain itu masih banyak orang yang tidak menyukai budaya arab
jahiliyah. Misalnya saja, Ri’ab bin Barro’. Ia dikenal sebagai pemeluk agama
nabi Isa. Jauh sebelum terutusnya Nabi, ada suara tanpa rupa yang bunyinya, “orang
terbaik di muka bumi ini ada tiga, Ri’ab Bin Barro’, pendeta Buhoiro, dan dia
yang belum terlahir.” Yang belum terlahir inilah yang dimaksud Nabi
Muhammad.[6]
Kemudian Qis bin Sa’idah al-Iyadi. Ia dikenal sebagai orang yang
kukuh terhadap ayat-ayat Allah. Dia juga dikenal di arab sebagai orang bijak.
Ia pernah berpidato di pasar Ukadz di atas unta merah. Pada saat itu, Abu Bakar
melihatnya. Kemudian ia ceritakan pada Nabi dan ia dendangkan syair dari Qis
Bin Saidah di hadapan Nabi.[7]
Ada lagi Abu Qais Shormah yang berasal dari suku bani Najjar.
Awalnya ia penyembah berhala. Namun kemudian ia mulai menjauhi dunia. Ia mulai
memakai baju-baju kasar. Pernah ia ingin memeluk agama Nasrani, namun
kemauannya itu ia tahan. Pada akhirnya, rumahnya ia jadikan masjid yang
tidak boleh dimasuki oleh orang yang haid atau yang junub. Ia menyatakan diri
memeluk agama nabi Ibrahim. Pada saat nabi hijrah ke Madinah, ia dengan yakin
masuk agama islam dan taat menjalankan perintah agama dengan sebaik-baiknya.
Pada saat jahiliyah, ia pernah menggubah sebuah syair[8]
?????? ???? ??? ??? ???? ... ???? ???? ???? ????
Diantara pengikut agama nabi Ibrahim ialah As’ad Abu Karb
Al-Humairy dan Zuhair Bin Abi Salma. Keduanya menjadi penyair yang tulisannya
pernah digantungkan di dinding ka’bah. As’ad Abu Karb Al-Humairy sudah
beriman tujuh ratus tahun sebelum nabi diutus. Salah satu sya’ir yang ia buat
untuk mengejawantahkan imannya,
????
??? ???? ??? ... ???? ?? ???? ???? ??????[9]
Ummayyah dan Zuhair merupakan penganut paham monoteisme yang
menjadi penyair. Menurut Prof. Dr. Abbas Mahmud, mereka merupakan ahli
kebijaksanaan, dicari petuahnya, dan tidak condong ke agama manapun seperti
Nasrani dan Yahudi. Mereka masih beriman kepada Allah dan menolak menyembah
berhala
Treakhir, Kholid bin Sinan. Ia pernah disabdakan Nabi sebagai
Nabi yang disia-siakan kaumnya. Pada saat ajal akan merenggutnya, ia berwasiat ”Jika
pada suatu hari ada seekor keledai betina yang diikuti keledai jantan, kemudian
menghentakkan kakinya di atas kuburanku, pada saat itulah gali kuburanku. Aku
akan hidup lagi dan kemudian akan aku ceritakan segala hal yang akan terjadi
sampai hari kiamat.” Ternyata benar apa yang dikatakan Kholid bin Sinan.
Keledai itu melewati kuburannya. Namun hal itu urung dilakukan orang keluarganya.
Karena mereka akan dicaci orang kalau sampai hal itu dilakukan. Mereka sangat
menghormati orang yang mati. Pernah suatu ketika, anak perempuan Kholid
bin Sinan datang kepada beliau. Beliau menyambut, “selamat datang anak dari
saudaraku dan anak dari nabi yang disia-siakan oleh kaumnya sendiri.” Saat
anaknya mendengar ayat qul huwallahu ahad yang diucapkan Nabi, ia lalu
mengatakan bahwa kalimat itu pernah diucapkan oleh ayahnya pada saat hidup.
Anaknya sendiri pada waktu belum paham apa yang dimaksud ayahnya.[10]
Mereka tidak menyembah berhala dan mengikuti paham
monoteisme.[11] Dr. Sayyid Abdul Aziz
Salim juga menyatakan, mereka itu sebenarnya mengikuti prinsip agama nabi
Ibrahim. Agama yang mereka anut tidak condong ke Nasrani ataupun Yahudi.[12] Pernyataan inilah
yang sulit diterima. Bukti yang bisa menyangkal pernyataan ini ialah kemampuan
seorang Waraqa membaca tanda-tanda kenabian. Ia bisa tahu secara mendalam bahwa
Nabi Muhammad didatangi makhluk yang bernama Jibril. Beliau pun bahkan
menerjemah kitab injil ke bahasa arab.
Sekalipun eksistensi gerakan ini hanya terpetak pada lingkup
yang sempit, namun ajaran mereka masih tertanam dan diamalkan dalam islam.
Ajaran-ajaran mereka antara lain,[13]
- Mengharamkan menyembelih hewan untuk berhala
- Mengharamkan daging yang dipersembahkan kepada berhala
- Mengharamkan riba
- Mengharamkan minum arak
- Menghukum peminum arak
- Pemotongan tangan pencuri. Ajaran ini pernah
didengungkan oleh Abdul Muthollib pada masanya
- Haram memakan bangkai, darah, dan daging babi
- Berpuasa
- Khitan
- Mandi junub
- Percaya hari kebangkitan kembali dan adanya hari
perhitungan
- Orang yang berbuat baik masuk surga dan yang berbuat
jelek masuk neraka
- Mereka tidak mau menyembah berhala.
- Tidak mau mengikuti upacara penyembahan atau peringatan
penyembahan berhala.
Ada beberapa keterangan yang menyebutkan, bahwa pada suatu hari
masyarakat Quraisy sedang berkumpul di Nakhla merayakan berhala 'Uzza; empat
orang di antara mereka diam-diam meninggalkan upacara itu. Mereka itu ialah:
Zaid bin 'Amr, Usman bin Huwairith, 'Ubaidullah bin Jahsy dan Waraqa bin
Naufal.
Mereka satu sama lain berkata: "Ketahuilah bahwa
masyarakatmu ini tidak punya tujuan; mereka dalam kesesatan. Apa artinya kita
mengelilingi batu itu: mendengar tidak, melihat tidak, merugikan tidak,
menguntungkan pun juga tidak. Hanya darah korban yang mengalir di atas batu
itu. Saudara-saudara, marilah kita mencari agama lain, bukan ini."
Dari antara mereka itu kemudian Waraqa menganut agama Nasrani.
Konon katanya dia yang menyalin Kitab Injil ke dalam bahasa Arab. 'Ubaidullah
bin Jahsy masih tetap kabur pendiriannya. Kemudian masuk Islam dan ikut hijrah
ke Abisinia. Di sana ia pindah menganut agama Nasrani sampai matinya. Tetapi
isterinya - Umm Habiba bint Abi Sufyan - tetap dalam Islam, sampai kemudian ia
menjadi salah seorang isteri Nabi dan Ummul-Mu'minin.
Zaid bin 'Amr malah pergi meninggalkan isteri dan al-Khattab
pamannya. Ia menjelajahi Syam dan Irak, kemudian kembali lagi. Tetapi dia tidak
mau menganut salah satu agama, baik Yahudi atau Nasrani. Juga dia meninggalkan
agama masyarakatnya dan menjauhi berhala. Dialah yang berkata, sambil bersandar
ke dinding Ka'bah: "Ya Allah, kalau aku mengetahui, dengan cara
bagaimana yang lebih Kamu Sukai aku menyembahMu, tentu akan kulakukan. Tetapi
aku tidak mengetahuinya."
Usman bin al-Huwairith, yang masih berkerabat dengan Khadijah,
pergi ke Romawi Timur dan memeluk agama Nasrani. Ia mendapat kedudukan yang
baik pada Kaisar Romawi itu. Disebutkan juga, bahwa ia mengharapkan Mekah akan
berada di bawah kekuasaan Romawi dan dia berambisi ingin menjadi Gubernurnya.
Tetapi penduduk Mekah mengusirnya. Ia pergi minta perlindungan Banu Ghassan di
Syam. Ia bermaksud memotong perdagangan ke Mekah. Tetapi hadiah-hadiah penduduk
Mekah sampai juga kepada Banu Ghassan. Akhirnya ia mati di tempat itu karena
diracun.[14]
- Menghukum pelaku zina
- Mengharamkan zina
Pada dasarnya hubungan pria dan wanita dalam masyarakat Arab itu
seluruhnya - berdasarkan bukti-bukti Qur'an serta peninggalan-peninggalan
sejarah masa itu - tidak lebih adalah suatu hubungan jantan dengan betina,
dengan sedikit perbedaan, sesuai dengan tingkat-tingkat kelompok dan
golongan-golongan kabilah masing-masing, yang pada umumnya tidak jauh dari cara
hidup yang masih mirip-mirip dengan tingkatan manusia primitif. Dalam hal ini
kaum wanitanya pada zaman jahiliah yang mula-mula mempertontonkan diri,
memamerkan kecantikannya dengan berbagai-bagai perhiasan yang bukan lagi
terbatas hanya pada suaminya. Mereka pergi keluar sendiri-sendiri atau
beramai-ramai untuk keperluan yang mereka adakan di tengah-tengah padang sahara.
Di tempat ini pemuda-pemuda dan kaum pria lainnya menyambut mereka, dan mereka
dipertemukan dengan kelompoknya masing-masing. Kedua belah pihak mereka sudah
tidak peduli lagi, saling bertukar pandangan, saling bercumbu dengan kata-kata
yang manis-manis, yang membuat si jantan jadi senang dan si betina jadi
tenteram.
Pada beberapa kabilah masa itu masalah zina bukanlah suatu
kejahatan yang patut mendapat perhatian. Masalah cumbu-cumbuan sudah merupakan
salah satu kebiasaan semua orang. Bila ada wanita yang melahirkan anak, dan
tidak diketahui siapa bapa anak itu, tidak segan-segan ia akan menyebutkan,
laki-laki mana yang telah menjamahnya untuk kemudian menghubungkan anaknya
kepada orang yang dianggapnya paling mirip. [15]
- I’tikaf atau semedi di gua hira untuk tahannuts[16] pada bulan ramadhan.
Pada bulan ramadhan juga dianjurkan banyak berbuat kebaikan, memberi makanan
kepada orang miskin. Ini pernah dilakukan Abdul Muthallib dan Zaid Bin Nufail.[17]
Diceritakan
Di puncak Gunung Hira, - sejauh dua farsakh sebelah utara Mekah
-terletak sebuah gua yang baik sekali buat tempat menyendiri dan tahannuts.
Sepanjang bulan Ramadan tiap tahun ia pergi ke sana dan berdiam di tempat itu,
cukup hanya dengan bekal sedikit yang dibawanya. Ia tekun dalam renungan dan
ibadat, jauh dari segala kesibukan hidup dan keributan manusia. Ia mencari
kebenaran, dan hanya kebenaran semata.[18]
- Larangan mengubur anak perempuan hidup-hidup. Mereka
malah akan menanggung anak yang ingin dikubur. Diceritakan
Bahwa Said bin Zaid bin Umar bin Nufail berkata: anak paman Umar
bin Khottob merupakan tipe penyayang. Ia akan bilang kepada orang yang ingin
mengubur hidup-hidup anaknya untuk menundanya. Ia juga akan menawarkan
perawatan dan pengasuhan anak tersebut. Bahkan jika ayahnya tidak mau, ia akan
membiayai perawatan anak itu asal ia asuh. Said ibn Ahad pernah melakukan hal
itu mengikuti ajaran Zaid bin Amr.[19]
Diceritakan pula:
Abdul Muttalib di tengah-tengah masyarakatnya sendiri itu merasa
kekurangan tenaga yang akan dapat membantunya. Ia bernazar; kalau sampai
beroleh sepuluh anak laki-laki kemudian sesudah besar-besar tidak beroleh anak
lagi seperti ketika ia menggali sumur Zamzam dulu, salah seorang di antaranya
akan disembelih di Ka'bah sebagai kurban untuk Tuhan. Tepat juga anaknya yang
laki-laki akhirnya mencapai sepuluh orang dan takdirpun menentukan pula sesudah
itu tidak beroleh anak lagi.
Setelah juru qid-h mengocok anak panah yang sudah
dicantumi nama-nama semua anak-anak yang akan menjadi pilihan dewa Hubal untuk
kemudian disembelih oleh sang ayah, maka yang keluar adalah nama Abdullah.
Tetapi saat itu juga orang-orang Quraisy serentak sepakat
melarangnya supaya jangan berbuat, dan atas pembatalan itu supaya memohon ampun
kepada Hubal. Sekalipun mereka begitu mendesak, namun Abdul Muttalib masih
ragu-ragu juga. Ditanyakannya kepada mereka apa yang harus diperbuat supaya
sang berhala itu berkenan. Mughira bin Abdullah dari suku Makhzum berkata:
"Kalau penebusannya dapat dilakukan dengan harta kita, kita
tebuslah."[20] Akhirnya Abdullah
tidak lagi disembelih dan ditebus hingga ratusan unta. (khr)
[1] kata namus berarti 'Jibril.' Salah seorang Orientalis -
Montgomery Watt misalnya - memberikan catatan bahwa kata namus biasanya diambil
dan bahasa Yunani nomos, dan ini berarti undang-undang atau kitab suci yang
diwahyukan. Sebaliknya pemakaian kata namus bukan istilah Qur'an, sebab Qur'an
menggunakan kata Taurat apabila yang dimaksud dengan namus itu undang-undang
Nabi Musa.
[2] Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad,(
http://www.geocities/juberff/)
[3] Menurut ceita, ia dibunuh oleh orang Nasrani di Syam
[4] Kholil Abdul Karim, Al-Judzur At-Tarikhiyyah Li As-Syari’ah
Al-Islamiyyah, (Kairo: Sina,1990), h. 23
[5] Abu Muhammad Abdillah Ad-Dainuri, Al-Ma’arif,
[Kairo:Haiah Misyriyyah ‘Ammah,1992], h.60
[6] ibid
[7] ibid
[8] ibid
[9] ibid
[10] Umar Bin Zaid, Tarikh Al-Madinah, [Jeddah: Habib Mahmud
Ahmad, 1399H] juz 2 h.421
[11] Dr. Sayyid Abdul Aziz Salim, Dirosat Fi Tarikh Al-Arab Qobla
Al-Islam, [Iskandariah: Muassasah As-Syabab Al-Jami’ah], hal 438
[12] ibid
[13] Kholil Abdul Karim, Al-Judzur At-Tarikhiyyah Li As-Syari’ah
Al-Islamiyyah, (Kairo: Sina,1990), h. 23
[14] Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad,(
http://www.geocities/juberff/)
[15] ibid
[16] Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab masa itu bahwa
golongan berpikir mereka selama beberapa waktu tiap tahun menjauhkan diri dari
keramaian orang, berkhalwat dan mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka
dengan bertapa dan berdoa, mengharapkan diberi rejeki dan pengetahuan.
Pengasingan untuk beribadat semacam ini mereka namakan tahannuf dan tahannuth
[17] Kholil Abdul Karim, Al-Judzur At-Tarikhiyyah Li As-Syari’ah
Al-Islamiyyah, (Kairo: Sina,1990), h. 23
[18] Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad,(
http://www.geocities/juberff/)
[19] Kholil Abdul Karim, Al-Judzur At-Tarikhiyyah Li As-Syari’ah
Al-Islamiyyah, (Kairo: Sina,1990), h. 23
[20] Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad,(
http://www.geocities/juberff/)

0 Komentar