![]() |
| Gedung Ngasirah yang terletak di Kabupaten Kudus |
M.A. Ngasirah, perempuan keturunan dari Kiai Haji Madirono dan Nyai Hajah Siti Aminah asal Teluk Awur Jepara, adalah ibu kandung dari Drs. R.M.P. Sosrokartono dan R.A. Kartini. Melihat dari nama kedua orang tuanya yang berpredikat Kiyai dan Bu Nyai, maka kurang lebihnya, Ngasirah adalah seorang gadis pingitan Islam yang memiliki tradisi beragama kuat. Dia lahir di lingkungan perguruan Islam Jepara, sekitar daerah Mantingan yang menjadi pusat Islam di Jawa pada akhir dan awal abad ke-19 sampai abad ke-20. Ayahnya adalah seorang guru agama yang juga bekerja sebagai mandor di pabrik gula milik orang Eropa di Mayong Jepara. Dia juga merupakan pedagang kopra di pesisir Jepara.
Tidak banyak yang mengetahui tentang sejarah Ngasirah sebenarnya dan yang telah dia lakukan untuk bangsa ini. Beberapa sumber sejarah hanya menyebutkan tentang anaknya, yaitu Kartini, seorang perempuan muda Jawa yang berani menentang feodalisme. Bahkan dalam surat-surat Kartini (Door Duisternis Tot Licht yang diinformasikan oleh J.H. Abendanon), tidak banyak informasi yang didapatkan untuk mengetahui sosok ibu kandungnya. Di sana, Kartini tidak secara khusus menyebut atau menceritakan riwayat sang Ibu , tetapi Kartini lebih banyak menceritakan tokoh, seperti ayahnya, sebagai laki laki yang hebat yang merasa bangga dengan keberhasilan pendidikan anaknya.
Meretas jejak perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia, rasanya tidak cukup hanya melihat sikap-sikap heroic para aktivis seperti Kartini misalnya. Seorang Kartini, pahlawan nasional yang pada saat itu berani berpikir dan bergerak melakukan langkah-langkah demi terwujudnya kemajuan pendidikan perempuan pribumi, bisa dikatakan adalah tokoh yang berani duel langsung dengan sistem budaya pada masa-masa perjuangan mereka. Di balik semangat serta kegigihan mereka dalam berjuang yang tercatat oleh sejarah, kekaguman masyarakat terhadap ketokohan pejuang perempuan terutama R.A. Kartini misalnya, pun semua tak lepas dari latar belakang kondisi sehari-hari yang dialaminya saat itu. Adanya kesempatan, dorongan, bahkan dukungan kesiapan yang mendasari perjuangan Kartini, tidak bisa dipisahkan dari peranan seorang ibu yang sejak kecil merawat, mendidik serta membentuk karakternya.
Adalah Ngasirah, sosok ibu dari seorang pejuang yang sepantasnya dan seharusnya juga disebut pejuang. Ngasirah tidak hanya mendidik dan membekali banyak hal terhadap Kartini anak kandungnya, tetapi keberadaan diri dan yang beliau alami sekaligus memberi inspirasi kepada Kartini dan kita semua. Sebuah inspirasi dalam mengasuh serta mendidik seorang anak, ibu tidak boleh mengandalkan materi dan fasilitas hidup yang bisa mereka berikan kepada anak-anaknya, sekalipun posisi maupun keadaan mendukung seseorang bisa melakukan itu semua. Telah pernah dibuktikan oleh seorang Ngasirah, bahwa kesabaran demi kesabaran, kebijaksanaan, rendah hati, tawadhu dan sikap-sikap kebersahajaan sehari-hari adalah hal yang sangat penting sekali ditunjukkan sebagai contoh yang kemudian bisa diteladani bagi si anak.
Bagi Kartini, Ngasirah adalah sosok ibu atau perempuan teladan yang sangat kuat dan begitu hebat. Akan tetapi, kehebatan yang dimilikinya seolah tak ada yang mau mengakui apalagi menghargainya. Di dalam sebuah keluarga, Ngasirah adalah figur istri teladan yang memiliki kepribadian sangat matang dan sangat bijaksana. Adanya sikap dan peran seperti yang dimiliki Ngasirah, bisa dipastikan dalam keluarga akan tercipta suasana rukun dan damai, bahkan anak-anak pun akan terdidik serta terarah masa depannya.
Sampai sekarang, nama Ngasirah masih terus dikenang oleh masyarakat luas, terutama di sekitar kampung kelahirannya dan di daerah tempat beliau pernah menapaki perjalanan hidup, yaitu di Jepara, Kudus, dan Rembang. Pemerintah Kabupaten Kudus memakai nama Ngasirah untuk menamai salah satu Gedung Pertemuan yang cukup ternama di kota tersebut, sebagai simbol penghormatan dan upaya terus mengingatkan generasi bangsa ini agar tidak melupakan jasa-jasa seorang Ibunda, Ibu Bangsa.
M. Husaini
Penulis adalah Mahasantri Ma’had Aly Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus dan penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS RI.

0 Komentar