Pengelolaan Sumber Daya dalam Islam

 


PENGELOLAAN SUMBER DAYA DALAM ISLAM

Ahmad Afandi, M.Pd.I

Saat Allah menurunkan Adam dan hawa ke muka bumi, planet tersebut tidak dalam kondisi ‘kosong’ atau tidak layak huni. Allah telah mempersiapkannya untuk Adam agar bumi dapat dikelola, sebagaimana Allah telah mempersiapkan Adam untuk menjadi khalifah-Nya. Sebagai seorang khalifah dan manusia yang (masih) satu-satunya menempati bumi luas, Adam mencari cara agar ia tetap bertahan hidup di tengah kekayaan alam yang ia huni.

Barangkali Adam memahami keadilan dan kebijaksaan dalam rencana Penciptanya. Meskipun Allah murka padanya akibat skandal khuldi yang terjadi antara ia dan Hawa, ternyata Allah memberinya tempat terbentang luas dengan segala kekayaan alam yang ada di dalamnya. Tidak hanya itu, Allah juga melengkapinya kemampuan untuk bisa mengelola dunia ‘pengasingannya’. Adam mengerti bahwa ia telah diplot sebagai khalifah. Ialah pengganti Allah yang merajai bumi. Ia harus bisa mengelola bumi luas yang ia huni. Adam tidak diam atau menunggu Tuhan memanggilnya kembali ke surga.

Tentu, kehidupannya di bumi tidaklah sama ketika ia dan isterinya hidup di surga. Jika di surga kebutuhannya telah tercukupi tanpa harus bersusah payah melakukan aktifitas apa-apa, beda halnya ketika di bumi. Adam dapat memahami bahwa untuk memenuhi kebutuhannya hidup di bumi, ia harus bergerak melakukan aktifitas mengelola apapun yang terhampar di depan matanya. Adam tidak ingin menjadi semut yang mati dalam tumpukan gula.

Apa yang dilakukan oleh Adam, secara turun temurun dilakukan oleh anak cucunya. Aktifitas-aktifitas untuk memenuhi kebutuhan hidup yang dilakukan oleh generasi Adami semakin berkembang sesuai zamannya. Penghuni bumi makin banyak dan mereka semua memiliki hasrat untuk mengelola kekayaan alam di bumi dengan cara masing-masing. Pengelolaan sumber daya alam tersebut disesuaikan dengan kreatifitas akal manusia (sumber daya manusia) yang dimiliki. Mereka yang kreatif mengelolanya dengan baik akan berhasil, sedangkan mereka yang tidak mampu akan tercecer.           

Namun demikian, yang harus dipahami adalah, bahwa pemilik hakiki dari sumber daya tersebut (alam [SDA] dan akal [SDM]) adalah Tuhan penguasa jagat raya, Allah swt. Pemilik hakiki memiliki kekuasaan untuk mengatur jalannya aktifitas pengelolaan dua sumber daya yang telah dianugerahkan kepada manusia sebagai ‘pemilik sementara’. Aturan main pengelolaan sumber daya tersebut termaktub dalam kitab suci yang dititipkan Allah kepada para nabi untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Pemilik sementara mesti patuh kepada aturan yang telah ditetapkan oleh Pemilik Sebenarnya. Kepatuhan tersebut merupakan bentuk ibadah di mana itu merupakan tujuan hidup manusia diciptakan (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56).  

Dalam Islam, Al-Qur’an merupakan kitab suci yang menuntun umat muslim untuk mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Nabi yang membawanya berserta sunnah adalah teladan yang mesti dianut. Umat muslim yang bahagia dunia dan akhirat adalah mereka yang berpegang teguh pada keduanya. Umat muslim yang berada dalam rel al-Qur’an dan Sunnah dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya akan mencapai tujuan, yaitu kebahagiaan dunia, pun akhirat.

Dalam diskursus kali ini, makalah ini hendak berbicara tentang sumber daya manusia dan alam serta bagaimana mengelolanya menurut ajaran Islam. Pembahasan ini penting untuk diketengahkan sebab sumber daya adalah modal awal yang dimiliki manusia dalam melakukan aktifitas pemenuhan kebutuhannya untuk bahagia mengarungi kehidupan di muka bumi. Islam menetapkan aturan-aturan tertentu yang tercermin dalam kitab suci dan tradisi nabi yang mesti diketahui oleh umat manusia.

Sumber Daya Manusia

Dalam diri manusia[1] mengalir darah khalifah. Ia merupakan mandataris Tuhan di muka bumi. Berkenaan dengan ini, Allah swt. berfirman;

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 30)

Menurut as-Suyuti, Jauh sebelum manusia diciptakan, bumi dan seisinya sudah diciptakan terlebih dahulu oleh Allah. Yang diberi kesempatan menghuni pertama kali adalah bangsa jin. Ternyata, bangsa jin tidak mampu menerima mandat Allah. Bumi yang dititipkan oleh-Nya agar dijaga jangan sampai rusak, ternyata dirusak dan bangsa mereka sering bertempur menumpahkan darah. Murka dengan perilaku bangsa jin, Allah mengutus para malaikat untuk menghukum mereka dan ‘mengasingkannya’ ke pulau terpencil di tengah lautan. Ketika Allah hendak menciptakan adam, malaikat bertanya dengan nada protes kepada Allah, apakah akan menciptakan makhluk yang berbuat kerusakan di muka bumi dan sering berperang.[2] Protes malaikat ini ternyata dijawab diplomatis oleh Allah sementara Adam tetap diciptakan oleh-Nya.  

Dalam ayat yang berbeda, Allah berfirman:

 “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shad [38]: 26)

Jika kedua ayat di atas digabungkan pemahamannya, dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang dianggap Allah mampu mengurusi bumi, mengatur, menjaga kelestarian, serta mengolahnya. Manusia memiliki daya yang dianugerahkan oleh Allah untuk itu. Agar tidak terulang sejarah kelam yang kedua kalinya, yaitu sejarah bangsa jin yang tidak mampu menjaga dan mengolah bumi dengan baik, Allah mengutus para Nabi sebagai wakil yang mengajarkan keadilan dan memperingatkan kepada umat manusia agar tidak mengikuti hawa nafsunya sehingga bertindak semena-mena di atas bumi.

Adalah suatu hal yang mustahil jika Allah menjadikan manusia sebagai khalifah tanpa dibekali potensi atau kemampuan (daya) untuk mengolah alam yang Dia titipkan kepadanya. Sifat kebijaksanaan Tuhan tidak menghendaki itu. Allah telah memberikan kekuatan atau potensi kepada manusia untuk memenuhi kebutuhannya bertahan hidup dengan kreatif di muka bumi. Persoalannya sekarang, apakah anugerah daya tersebut mau diolah dan digunakan dengan baik oleh  manusia atau tidak. Jika anugerah daya khalifah itu ia gunakan dengan baik, tentu ia akan mampu bertahan hidup di muka bumi ini dengan bahagia.

Bagaimana menggunakan daya itu? Jawabannya adalah dengan bekerja. Khalifah adalah seorang pemimpin dan pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menunaikan tanggung jawabnya. Dengan bekerja, manusia menunaikan tanggung jawab dirinya sebagai manusia. Jika dia punya keluarga, maka dia menunaikan tanggung jawabnya sebagai pemimpin keluarga. Islam sangat mendorong umatnya untuk bekerja, menggunakan daya khalifah yang dianugerahkan kepadanya.

Islam meyakini ada dua ‘kehidupan’ yang diciptakan oleh Allah kepada manusia, yaitu kehidupan dunia dan akhirat. Bagi al-Ghazali, dalam menghadapi dua dunia ini, manusia ada tiga macam. Pertama, manusia yang hanya sibuk dengan kehidupan dunia. Kedua, manusia yang hanya sibuk dengan urusan akhirat. Ketiga, manusia yang sibuk dalam urusan dunia untuk sebagai bekal kehidupannya di akhirat.[3] Golongan pertama adalah orang yang terlena dengan kehidupan duniawi. Ketika di atas bumi mereka bekerja dalam rangka mencari kebahagiaan bendawi semata. Al-Ghazali menyebut golongan ini sebagai golongan yang binasa (halikin). Sementara golongan kedua menyibukkan dirinya  di atas bumi dengan kehidupan yang akan ia jalani nanti tanpa menghiraukan kenikmatan bendawi yang ada disekelilingnya. Gologan ini adalah golongan yang beruntung (faizin). Sementara golongan ketiga adalah golongan yang stabil dan seimbang sehingga golongan ini disebut al-Ghazali sebagai golongan yang menepati kebenaran (mutashaddiqin). Bagi golongan ini, kehidupan dunia adalah anugerah Allah yang mesti disyukuri. Kehidupan dunia merupakan ladang yang buahnya nanti dipanen pada kehidupan berikutnya. Dalam bekerja, golongan ini memiliki motivasi agama, sehingga pekerjaan duniawi yang dilakukanya memiliki nilai ukhrawi ibadah.   

Bagi umat muslim, bekerja merupakan pencarian akan karunia kekayaan alam Allah di muka bumi. Allah swt. berfirman; 

“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (QS. Al-Isra’ [17]: 12)

 “Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan,” (QS. An-Naba’ [78]: 10-11)

Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk mencari penghidupan di waktu siang. Kaum muqtashidin menggunakan waktu ini untuk betul-betul bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup material. Sementara malam adalah waktu yang tepat untuk memenuhi kebutuhan spiritual.

Sekelas para Nabi yang sudah dijamin kebahagiaannya oleh Allah dunia akhirat, tetap melewati proses untuk mencapai kebahagiaan tersebut. Mereka juga bekerja sebagaimana manusia biasa. Nabi daud misalnya, dalam sebuah riwayat, beliau tidak mau makan kecuali dari hasil jerih payahnya sendiri.

Dikisahkan, Daud adalah nabi dan raja. Semenjak masih muda telah menyertai tentera Bani Israil di bawah pimpinan Thalut melawan pasukan bangsa Palestina yang dipimpin Jalut (Goliath). Nabi Daud-lah yang membunuh Jalut, sehingga dipuji sebagai pahlawan perang. Setelah Raja Thalut meninggal, Nabi Daud menggantikannya sebagai raja. Allah SWT mengangkat Daud sebagai nabi dan rasul-Nya. Kepadanyalah diturunkan kitab Zabur. Beliau memiliki sejumlah mukjizat, seperti suara yang merdu, kecerdasan akal, mengerti bahasa burung, dan melembutkan besi.

Dengan diberi daya berupa mukjizat melembutkan besi dengan tangannya sendiri tanpa menggunakan api serta alat apapun, Daud bekerja membuat baju besi yang kemudian ia jual kepada para tentara Bani Israel. Menurut riwayat dari Ibnu Syaudzab, satu baju besi dijual dengan harga 6000 dirham.[4]

Dengan pernyataan yang tegas, Nabi Muhammad saw. Bersabda,

 “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada ia makan makanan itu dari hasil jerih payahnya sendiri.” (HR. Bukhari)[5]

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah bersabda

إن الله يحب المؤمن المحترف

“Allah menyukai orang mukmin yang bekerja/berkarya”[6]

Menurut al-Manawi, hadits di atas mengecam manusia yang tidak mau bekerja, mengaku sebagai sufi hanya sebagai alasan untuk tidak bekerja, mengaku sufi padahal ia tidak punya keterampilan yang bisa dijadikan contoh. Maka, lanjutnya, barang siapa yang tidak bisa dimanfaatkan keterampilannya sedangkan ia hidup dengan mengambil manfaat dari orang lain dan mengurangi jatah hidup mereka, maka mereka ini adalah manusia yang tidak ada gunanya dalam hidup ini kecuali mengeruhkan air muka dan mempermahal harga barang.[7]

Dengan bekerja, seseorang akan mendapatkan manfaat bagi dirinya. Jika dia bekerja untuk orang lain, maka ia juga memberi manfaat kepada orang lain. Dengan bekerja, seseorang selamat dari pengangguran dan meminta-minta, di mana Islam membencinya. Maka dari itulah, Yusuf al-Qardlawi berkesimpulan, bahwa bekerja dalam Islam adalah suatu kewajiban bagi mereka yang mampu. Tidak dibenarkan bagi seorang muslim berpangku tangan dengan alasan mengkhususkan waktu untuk beribadah atau bertawakkal kepada Allah.[8]

Tawakkal (pasrah kepada Allah) bukanlah alasan yang memperbolehkan seseorang untuk tidak bekerja. Memang, Allahlah Yang Memberi Rezeki dan menentukannya. Akan tetapi, di samping itu Allah juga menentukan agar manusia bekerja untuk mendapatkannya. Anjuran untuk bertawakkal sama sekali tidak bertentangan dengan kewajiban bekerja. Tentang tawakkal dan bekerja ini, terdapat riwayat menarik dari sayyidina Umar bin Khattab ra. Suatu ketika, beliau berjalan melintasi sekelompok orang-orang yang sedang santai. Umar bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka lakukan. Mereka menjawab bahwa mereka sedang bertawakkal. Mendengar jawaban orang-orang ini, Umar berang. Ia lantas berkata, “kamu bukanlah orang yang bertawakkal (mutawakkil), melainkan menggantungkan nasib kepada orang lain (muta’akil). Orang yang bertawakkal dengan sebenarnya adalah orang yang menaburkan benih di tanah lalu menyerahkan keberuntungannya kepada Allah.”[9] Oleh karena itu, Islam mendorong umatnya agar bekerja memenuhi kebutuhan hidup misalnya dengan perdagangan, pertanian, industri, dan lain sebagainya dengan tetap mengingat bahwa apapun yang ia dapatkan dari usahanya itu adalah pemberian Allah swt. 

Sumber Daya Alam

Alam luas yang diciptakan oleh Allah ini memiliki sumber daya yang kaya. Seisinya dapat dimanfaatkan oleh manusia. Manusialah yang berhak mengelola sumber daya alam tersebut karena makhluk inilah yang memiliki kemampuan atau daya untuk mengelolanya.

Al-Qur’an mengingatkan manusia akan kekayaan sumber daya alam dalam berbagai ayat dan surat. Dalam surat an-Nahl, Allah menyebut kekayaan alam berupa hewan yang dapat diambil manfaatnya oleh manusia. Allah berfirman;

 “Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan.” (QS. An-Nahl [16]: 5)

 “Dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An-Nahl [16]: 66)

Bagi manusia, hewan juga menjadi sumber penghidupan mereka. Misalnya hewan ternak, manusia menternakkannya hingga beranak pinak. Ternak tersebut diambil kulit, daging, telur, atau susunya, dan dimanfaatkan.

Allah juga menerangkan kekayaan alam berupa air, tanah, dan tumbuh-tumbuhan. Dia berfirman;

 “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 164)

 “Dia-lah, yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. An-Nahl [16]: 10-11)

Dalam ayat lain, Allah menyebutkan anugerah-Nya kepada manusia berupa kekayaan laut dan tambang. Allah berfirman;

 “Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl [16]: 14)

 “Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa. (QS. Al-Hadid [57]: 25)

Angin, matahari, dan bulan juga menjadi kekayan alam yang ditundukkan oleh Allah kepada manusia.

 “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. seperti Itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’raf [7]: 57)

 “Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (QS. Ibrahim [14]: 33)

Namun demikian, meskipun semua kekayaan alam telah ditundukkan oleh Allah untuk manusia, ia harus ingat bahwa pemilik sebenarnya dari alam itu adalah Allah swt.

 “Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. dan Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui.” (QS. As-Saba’ [34]: 1).

Oleh karena itu, manusia harus patuh pada aturan main dalam mengelola kekayaan alam yang digariskan Allah swt. Tentu, yang harus dilakukan manusia adalah menjaga dan melestarikan sumber daya alam itu karena ia merupakan nikmat Allah kepada hamba-Nya.  Setiap hamba wajib menyukurinya, dan salah satu cara menyukuri nikmat adalah dengan menjaga sumber daya alam dari polusi, kerusakan, atau kehancuran.[10] Allah berfirman;

 “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf [7]: 56)

Menurut al-Qardlawi, kerusakan di muka bumi terdiri dari dua bentuk, yaitu kerusakan materi dan kerusakan spiritual. Yang berbentuk materi bisa berupa sakitnya manusia, tercemarnya alam, binasanya makhluk hidup, terlantarnya kekayaan, dan terbuangnya manfaat. Sedangkan yang berbentuk spiritual misalnya tersebarnya kelaliman, meluasnya kebatilan, kuatnya kejahatan, hilangnya nurani dan pikiran. Kedua jenis kerusakan ini tidak tentu tidak diridlai Allah. Innallaha la yuhibbu al-mufisidin (QS. Al-Ma’idah: 64.)

Tindakan-tindakan seperti halnya menebang/membakar hutan, menggunakan bom untuk mendapatkan ikan di lautan, eksploitasi besar-besaran, membiarkan manfaat alam menjadi sia-sia, dan lain sebagainya dilarang dalam Islam sebab itu dapat mengganggu keseimbagan alam. Tidak hanya itu, kerusakan moral pun dapat mengakibatkan alam menjadi tidak stabil.

Dalam hal ini, Nabi bersabda dengan tegas, “Barang siapa yang menebangi hutan secara liar, Allah akan menjerumuskan kepalanya ke dalam api neraka” (HR. Abu Daud pada bab Adab, no. 5239). Mengapa Nabi melarangya? Lantaran tindakan tersebut dapat merusak keseimbangan alam. Jadi, tindakan apapun yang dapat merusak keseimbangan alam masuk dalam larangan yang termaktub dalam hadits ini.

Nabi juga tidak ingin manfaat alam terbengkalai begitu saja, dibiarkan tidak produktif. Maka dari itulah, Nabi membawa syari’at ihya’ al-mawat, menghidupkan tanah tak bertuan. Tanah tak bertuan ini dihidupkan dengan cara dikelola dan diambil manfaatnya.

Kesimpulan

Allah telah memberikan manusia dua anugerah atau karunia yaitu sumber daya yang ada dalam dirinya sendiri serta sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Manusia diberi mandat oleh  Allah untuk menghuni bumi sebab ia memiliki daya khalifah untuk dapat mengelola isinya.

Allah menginginkan agar manusia mengelola kekayaan alam dengan baik, tidak seperti penghuni sebelumnya (bangsa jin) yang selalu berbuat kerusakan. Allah ingin agar kekayaan di bumi yang telah Ia anugerahkan kepada manusia diolah dengan baik dan produktif. Produktifitas alam sangat bergantung pada kreatifitas penggunaan daya yang ada dalam diri manusia. Oleh karena itu, manusia harus tekun bekerja, menggali kekayaan alam yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Bagi seorang muslim, haram hukumnya tidak bekerja padahal ia memiliki kemampuan untuk bekerja.

Sumber daya alam yang dapat dikelola oleh manusia sangatlah banyak. Mulai dari tanah, air, tetumbuhan, hewan, tambang, angin, bahkan matahari dan bulan. Semuanya adalah alam yang terhampar kekayaannya untuk manusia. Namun, manusia harus ingat bahwa pemilik hakiki kekayaan tersebut adalah Allah swt. Oleh karena itu, dalam aktifitasnya mengelola kekayaan alam tersebut, manusia mesti tetap mematuhi rambu-rambu yang telah digarikan oleh Allah dalam syari’atnya. Syari’at menghendaki agar alam ini tidak dirusak atau disia-siakan manfaatnya. Setiap tindakan yang dapat mengacaukan keseimbangan alam sangat dilarang oleh syari’at. Wallahu a’lam bisshawab. 



[1] Manusia, bila ditinjau dari segi sifat atau tindakannya yang positif dan negatif sehingga dapat dibedakan seseorang dengan yang lainnya, dinamai oleh al-Qur’an dengan insan. Kata ini berakar dari kata yang berarti lupa, gerak dinamis, jinak, atau senang. Arti-arti tersebut menggambarkan sebagian sifat dasar manusia. Al-Qur’an berbicara tentang makhluk ini, baik secara perorangan maupun kelompok, juga peranannya dalam pergerakan sejarah serta faktor yang dapat membawa kebangkitan dari keruntuhannya. Quraish Shihab, Lentera Hati, 227.

[2] Jalaluddin as-Suyuti, Ad-Durru al-Mantsur di at-Ta’wil bi al-Ma’tsur, juz 1, h. 65, Maktabah Syamilah.

[3] Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumiddin, juz 2, h. 58.

[4] Abu al-Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Qishas al-Anbiya’, h. 485.

[5] Shahih Bukhari, juz 2, h. 730.

[6] Abu Bakar Ahmad bin Husain Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, juz 2, h. 88, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet. 1, 1410 H; ‘Alauddin Ali bin Hisamuddin al-Muttaqi al-Hindi al-Burhan al-Fauri, Kanz al-Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af’al, juz 4, h. 4, Muassasah ar-Risalah, 1981. Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad at-Thabrani, Al-Mu’jam al-Awsath, juz 8, h. 380, Kairo: Dar al-Haramain, 1415 H. 

[7] Abdurrauf al-Manawi, Faidh al-Qadir Syarh Jami’ as-Shagir, juz 2, h. 290, Mesir: Al-Maktabah at-Tijariah Kubra, t.t.

[8] Yusuf al-Qardlawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, terj. Zanul Arifin et. Al. h. 103, Jakarta: Gema Insani, 2006.

[9] Faidh al-Qadir Syarh Jami’ as-Shagir, juz 2, h. 290.

[10] Yusuf al-Qardlawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, h. 119.

0 Komentar

Posting Komentar