Kita ketahui
bersama di zaman sekarang ini banyak masjid yang ada di pinggir-pinggir jalan telah
dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang sangat lengkap,mulai dari tempat
parker yang luas, toilet bahkan ada pula yang sampai menyediakan fasilitas wifi
gratis. Sehingga masjid menjadi salah satu tempat yang nyaman untuk sekedar
melepas rasa capek
Tempat wudlu,
Toilet dan kamar mandi masjid pada awalnya disiapkan untuk kepentingan danckemaslahatan
masjid itu sendiri. Tempat wudlu, Toilet dan kamar mandi masjid inidi siapkan
untuk mempermudah para jamaah dalam mempersiapkan diri untuk melakukan ibadah.
Akan tetapi,
sering kali kita jumpai tempat tersebut menjadi sarana umum artinya tidak hanya
digunakan oleh orang-orang yang hendak melakukan ibadah namun Para pengunjung
pasar atau para orang yang bepergian
misalnya, lebih memilih untuk kencing atau buang hajat di toilet masjid, selain
karena gratis, juga karena mudah dijangkau, lebih lebih masjid yang dekat
dengan jalan umum.
Pertanyaan
Bagaimana hukum istirahat dan buang
hajat di masjid sesuai dengan deskripsi di atas?
Jawaban:
Pada prinsipnya
masjid hanya didirikan untuk beribadah dan sebagai sarana pendekatan diri kepada
Allah (QS. At-Taubah Ayat: 108) Oleh karena itu, istirahat maupun buang hajat
di masjid hukumnya diperbolehkan apabila sedang beribadah di masjid. Namun
apabila tidak sedang beribadah di masjid, maka istirahat di masjid hukumnya diperbolehkan
selama tidak mengganggu pelaksanaan ibadah dan tidak dilarang oleh pengurus masjid.
Sedangkan buang hajat dan aktivitas lain yang berpotensi merugikan masjid
seperti mandi, mencuci pakaian dan lain-lain, maka wajib berinfak.
Referensi:
1. QS: Al-Maidah ayat 1
2. Sunan ad-Darulqutni, juz 3 hal 327
3. Asnal matholib, juz 1 hal. 370
4. Fath al-Mu’in, hal. 90
5. Al-fiqh al-Islamy wa adillatuhu, juz 1 hal 482
{يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ
إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ إِنَّ
اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ (1) } [المائدة: 1، 2]
سنن الدارقطني (3/
427)
عَنْ أَنَسِ بْنِ
مَالِكٍ , عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ مَا وَافَقَ
الْحَقَّ مِنْ ذَلِكَ»
أسنى المطالب في شرح
روض الطالب (1/ 67)
(وَلَا بَأْسَ
بِنَوْمٍ فِيهِ) وَلَوْ لِغَيْرِ أَعْزَبَ فَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ أَصْحَابَ
الصُّفَّةِ وَغَيْرَهُمْ كَانُوا يَنَامُونَ فِيهِ فِي زَمَنِهِ - صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - نَعَمْ إنْ ضَيَّقَ عَلَى الْمُصَلِّينَ أَوْ شَوَّشَ
عَلَيْهِمْ حَرُمَ النَّوْمُ فِيهِ قَالَهُ فِي الْمَجْمُوعِ قَالَ: وَلَا
يَحْرُمُ إخْرَاجُ الرِّيحِ فِيهِ لَكِنَّ الْأَوْلَى اجْتِنَابُهُ لِقَوْلِهِ -
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا
يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ» .
فتح المعين بشرح قرة
العين بمهمات الدين (ص: 411)
واعلم أن الملك في
رقبة الموقوف على معين أو جهة ينتقل إلى الله تعالى: أي ينفك عن اختصاص الآدميين.
فلو شغل المسجد
بأمتعة وجبت الأجرة له فتصرف لمصالحه على الأوجه.
الفقه الإسلامي
وأدلته للزحيلي (1/ 547)
يجوز النوم في
المسجد، ولا كراهة فيه عند الشافعية، لفعل ابن عمر في الصحيحين، وكان أصحاب
الصُفَّة (1) ينامون في المسجد، ونام العرنيون في المسجد، ونام علي وصفوان بن أمية
فيه، ونام غيرهم.

0 Komentar