Umur Mengkhitankan Anak

 


Pertanyaan:

Bagaimana hukum mengkhitankan anak sesudah beberapa hari dari hari kelahirannya, boleh atau tidak? Sedangkan dalam kitab Khazinatul Asrar diterangkan bahwa mengkhitankan anak sebelum berumur 10 tahun tidak boleh. Terima kasih atas penjelasannya.

Jawaban:

Mengkhitankan anak sesudah beberapa hari dari hari kelahirannya hukumnya boleh. Dalam kitab al-Tuhfah disebutkan, jika mengakhirkan khitan melampaui hari ketujuh maka dilaksanakan pada hari ke empatpuluh (dari kelahirannya), jika tidak maka pada tahun ke tujuh (berumur tujuh tahun qomariyah) yang merupakan waktu diperintahkannya melaksanakan shalat (usia baligh).

Adapun dalam kitab yang Anda sebutkan, maka dipahami jika anak itu lemah tidak mampu berkhitan kecuali setelah berumur sepuluh tahun, maka dia sebaiknya dikhitan setelah berumur sepuluh tahun. Sumber (Buletin Jum’at al-Huda Edisi 512, 4 Mei 2007)

Khusus anak perempuan, waktu  khitan tidak ada batas umur. Khitan perempuan dikembalikan pada kebiasaan daerah. Hukum khitan bagi perempuan adalah sunnah menurut mazhab syafi’iyah. Perlu diketahui, tidak boleh mengambil bagian yang banyak dari perempuan ketika khitan. Cukup sedikit saja, karena akan merugikan wanita itu sendiri.

Referensi:

1. Mauhibah Dzi al-Fdhl [1]

فَفِي التُّحْفَةِ فَإِنْ أَخَّرَ عَنْهُ أَي الْخِتَانَ عَنِ السَّابِعِ فَفِي اْلأَرْبَعِيْنَ وَإِلاَّ فَفِي السَّنَةِ السَّابِعَةِ لِأَنَّهَا وَقْتُ أَمْرِهِ بِالصَّلاَةِ أَمَّا مَا ذَكَرَهُ فِيْ خَزِيْنَةِ اْلأَسْرَارِ فَمَحْمُوْلٌ فِيْمَا إِذَا كَانَ الصَّبِيُّ ضَعِيْفًا لاَ يَقْدِرُ اْلإِخْتِتَانَ إِلاَّ بَعْدَ عَاشِرِ سَنَتِهِ عِنْدَ أَهْلِ الْخِبْرَةِ .

Dalam kitab al-Tuhfah disebutkan, jika mengakhirkan khitan melampaui hari ke tujuh maka dilaksanakan pada hari ke empat puluh (dari kelahirannya), kalau tidak maka pada tahun ke tujuh yang merupakan waktu diperintahkannya untuk melaksanakan shalat. Adapun yang disebutkan dalam kitab Khazinatul Asrar, maka dipahami jika si anak itu lemah tidak mampu berkhitan kecuali setelah berumur sepuluh tahun sesuai dengan pendapat para pakar.

فتح الباري لابن حجر (10/ 340)

 قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ خِتَانُهَا قَطْعُ جِلْدَةٍ تَكُونُ فِي أَعْلَى فَرْجِهَا فَوْقَ مَدْخَلِ الذَّكَرِ كَالنَّوَاةِ أَوْ كَعُرْفِ الدِّيكِ وَالْوَاجِبُ قَطْعُ الْجِلْدَةِ الْمُسْتَعْلِيَةِ مِنْهُ دُونَ اسْتِئْصَالِهِ وَقَدْ أَخْرَجَ أَبُو دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ أُمِّ عَطِيَّةَ أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَخْتِنُ بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ

0 Komentar

Posting Komentar