Mutilasi
adalah tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk menyebabkan kerusakan fisik
yang serius pada tubuh seseorang. Tindakan ini seringkali dilakukan dengan
kekerasan dan kekejaman yang sangat besar, dan dapat menyebabkan luka yang
sangat parah dan bahkan kematian. Mutilasi dapat dilakukan dengan berbagai
cara, termasuk memotong, mencabik, atau menyayat bagian tubuh tertentu.
Kasus-kasus mutilasi yang dilaporkan di berbagai negara dapat disebabkan oleh
berbagai faktor, termasuk konflik sipil, perang, pembalasan, atau tindakan
terorisme.
Tentang
saat kewajiban kifayah dari masyarakat (ahlul balad) untuk menangani korban
mutilasi, apakah harus dilakukan setiap kali menemukan anggota tubuh atau harus
menunggu sampai semua anggota tubuh terkumpul?
Menurut
madzhab Syafi'i dan imam Ahmad, setiap kali sebagian anggota tubuh mayyit
ditemukan, maka wajib dilakukan kifa'i segera, termasuk dishalati meskipun
anggota tubuh yang lain belum ditemukan dan meskipun organ yang ditemukan hanya
sebagian kecil seperti kuku dan rambut. Namun, menurut Abu Hanifah dan juga
imam Malik, dishalati hanya diwajibkan jika sebagian yang ditemukan lebih dari
setengah. Hal ini berlaku ketika sudah diketahui bahwa mayyit itu sudah mati
dan diyakini beragama Islam.
Referensi
حاشيتا
قليوبي وعميرة (1/ 394)
(وَلَوْ
وُجِدَ عُضْوُ مُسْلِمٍ عُلِمَ مَوْتُهُ صَلَّى عَلَيْهِ) بَعْدَ غُسْلِهِ
وَمُوَارَاتِهِ بِخِرْقَةٍ بِنِيَّةِ الصَّلَاةِ عَلَى جُمْلَةِ الْمَيِّتِ كَمَا
صَلَّتْ الصَّحَابَةُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ - عَلَى يَدِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
بْنِ عَتَّابٍ بْن أَسِيد - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - أَلْقَاهَا طَائِرُ نَسْرٍ
بِمَكَّةَ مِنْ وَقْعَةِ الْجَمَلِ، وَعَرَفُوا أَنَّهَا يَدُهُ بِخَاتَمِهِ،
رَوَاهَا الزُّبَيْرُ بْنُ بَكَّارَ فِي الْأَنْسَابِ، وَذَكَرَهَا الشَّافِعِيُّ
بَلَاغًا، وَوَقْعَةُ الْجَمَلِ فِي جُمَادَى سَنَةَ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ، وَلَوْ
لَمْ يُعْلَمْ مَوْتُ صَاحِبِ الْعُضْوِ لَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِ، لَكِنْ يُدْفَنُ
كَالْأَوَّلِ.
الفقه على
المذاهب الأربعة (1/ 457)
؛ الثالث: أن
يوجد من جسد الميت مقدار، ولو كان قليلاً، باتفاق الشافعية، والحنابلة؛ وخالف
الحنفية، والمالكية، فانظر مذهبيهما تحت الخط (1) ؛ الرابع: أن لا يكون شهيداً قتل
في إعلاء كلمة الله، كما سيأتي في مبحث "الشهيد" لقوله صلى الله عليه
وسلم في قتلى أحد: "لا تغسلوهم، فإن كل جرح أو كل دم يفوح مسكاً يوم القيامة،
ولم يصل عليهم"، رواه أحمد، ويقوم التيمم مقام غسل الميت عند فقد الماء أو
تعذر الغسل، كأن مات حريقاً، ويخشى أن يتقطع بدنه إذا غسل بذلك أو بصب الماء عليه
بدون دلك، أما إن كان لا يتقطع بصب الماء فلا ييمم، بل يغسل بصب الماء بدون دلك.

0 Komentar