Mengubur Ari-Ari Disertai Lampu

 


Ari-ari adalah gumpalan daging yang berisi darah yang ditemukan pada bayi saat lahir. Namun, meskipun tidak berguna lagi, adat dan budaya di nusantara sangat menghormati ari-ari ini dan menganggapnya sebagai sesuatu yang penting. Oleh karena itu, ari-ari tersebut dikubur di tanah dengan sangat sopan dan dihormati. Setelah penanaman ari-ari, biasanya di atasnya ditempatkan damar, lilin atau lentera sebagai penerangan dan ditaburi dengan tiga jenis bunga. Kemudian, ari-ari tersebut disirami dengan air bunga atau diberi wangi-wangian dan ditutup dengan kendi atau kuali.

Bagaimana ulama memandang adat dan tradisi menanam ari-ari bayi serta budaya-budaya yang menyertainya yang menjdai kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat di sebuah wilayah?

Menurut kitab Asna al-Mathalib Syarh Raudhah at-Thalib, hukum menanam ari-ari dipercayai sebagai sunnah atau perbuatan yang dianjurkan dalam agama. Menurut pandangan beberapa ulama, sunnah mengubur sesuatu yang terpisah dari orang yang masih hidup atau yang masih diragukan kematiannya, seperti tangan pencuri, kuku, rambut, gumpalan darah, darah akibat goresan dan barang lain yang serupa, dengan tujuan untuk menghormati pemiliknya.

Dalam kitab al-Bajuri, dijelaskan bahwa budaya yang menyertainya seperti menaburkan bunga di atas ari-ari, memberikan wangi-wangian/kemenyan, menyalakan lampu, damar atau lilin dan menutup dengan kendi atau kuali, dikategorikan sebagai mubadzir atau membuang-buang harta tanpa manfaat. Oleh karena itu, hukum dari budaya tersebut dianggap haram karena merupakan tindakan yang dilarang dalam agama.

Menurut pandangan beberapa ulama, menyalakan lampu, damar atau lilin dan memberikan kuali di atas ari-ari dengan niat untuk mencegah hewan buas mengacaukan atau merusaknya dibolehkan. Sama halnya dengan menaburkan bunga atau memberikan wangi-wangian/kemenyan dengan tujuan untuk memuliakan masyimah, yang dianggap sebagai mayit dalam hadits Nabi.

 

Referensi:

وَيُسْتَحَبُّ دَفْنُ ماَ انْفَصَلَ مِنْ حَيٍّ لَمْ يَمُتْ فِي الْحَالِ أو مِمَّنْ شَكَكْنَا فِيْ مَوْتِهِ كَيَدِ سَارِقٍ وَظُفْرٍ وَشَعْرٍ وَعَلَقَةٍ وَدَمِ فَصْدٍ وَنَحْوِهِ إكْرَامًا لِصَاحِبِهَا (اسنى المطالب في شرح روضة الطالب باب الصلاة على الميت الجزء 1 ص 313 (


تَعْرِيْفُ التَّبْذِيْرِ ) اَىْ يَصْرِفُهُ فِىْ غَيْرِ مَصَارِفِهِ ( قَوْلُهُ فِىْ غَيْرِ مَصَارِفِهِ ) وَهُوَ كُلُّ مَا لاَ يَعُوْدُ نَفْعُهُ اِلَيْهِ عَاجِلاً وَلاَ اَجِلاً فَيَشْمِلُ الْوُجُوْهُ الْمُحَرَّمَةُ وَالْمَكْرُوْهَةُ. ( الباجورى على فتح القريب في تعريف التبذير(.


لِخَبَرِ مَا قُطِعَ مِنْ حَيٍّ فَهُوَ مَيِّتٌ رَوَاهُ الْحَاكِمُ (أسنى المطالب في الشرح روضة الطالب ج 1 ص 11
(

0 Komentar

Posting Komentar