Isra' dan Mi'raj; Perjalanan Sang Penutup Kenabian



 Isra' dan Mi'raj; Perjalanan Sang Penutup Kenabian

Oleh: Sheikh Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi

Ayat dari Al-Quran: "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Al-Isra: 1)

Masya Allah, Yang Maha Kuasa, Yang tidak terbatas oleh apapun, Allah telah memberikan keberkahan dan kebaikan kepada Nabi yang tercinta, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan perjalanan yang mulia, yaitu Isra' dan Mi'raj.

Isra' adalah perjalanan di bumi yang dilakukan oleh Rasulullah dari Mekkah ke Baitul Maqdis, sedangkan Mi'raj adalah perjalanan ke langit yang dilakukan oleh Rasulullah dari Baitul Maqdis ke langit yang paling tinggi, kemudian ke Sidratul Muntaha, dan bertemu dengan Dzat Yang Maha Kuasa.

Isra' dan Mi'raj dilakukan dengan tubuh dan jiwa bersamaan, dan para ulama menyimpulkan hal tersebut dari firman Allah dalam Al-Quran: "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya" (Al-Isra: 1).

Tasbih adalah pengagungan dan pujian kepada Allah dari segala kekurangan dan kelemahan, yang hanya dapat dilakukan dengan hal-hal yang agung dan besar. Jika peristiwa Isra' dan Mi'raj hanya sekadar mimpi, maka itu tidak akan menjadi hal yang besar. Kemudian, dengan kalimat "hamba-Nya", makna ini mencakup tubuh dan jiwa.

Allah telah menurunkan dua hamba-Nya dari langit ke bumi, yaitu Adam dan Hawa, seperti yang tertera dalam ayat Al-Baqarah: "Kami berfirman: 'Turunlah kamu dari surga itu, semuanya." (Al-Baqarah: 38) Dan Allah juga telah mengangkat Isa 'alaihis-salam, seperti yang tertera dalam ayat Ali Imran: "Ingatlah ketika Allah berfirman: 'Hai Isa, sesungguhnya Aku akan memanggil kamu dan menarik kamu naik kepada-Ku." (Ali Imran: 55)

Bagaimana kita bisa meminta Rasulullah agar dibawa oleh Tuannya dalam perjalanan Isra' Mi'raj?

Seorang mukmin membaca dalam kitab Allah bahwa Allah memberikan kemampuan kepada salah satu hamba-Nya untuk mengangkut singgasana kerajaan Ratu Saba dari selatan Yaman ke tanah Palestina dalam sekejap mata:

"Maka berkatalah salah seorang yang memiliki ilmu dari Kitab (Allah): "Aku akan membawanya kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka ketika Sulaiman melihat singgasana itu telah ditempatkan di hadapannya, ia berkata: "Ini adalah karunia Tuhanku, untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau kufur. Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri; dan barang siapa yang kufur maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia" [Al-Naml: 38-40].

Jika ini adalah kemampuan seorang hamba, bagaimana dengan Penciptanya, dan jika ini adalah kemampuan yang diberikan, bagaimana dengan Pemberi yang Mahatinggi?

Salah satu kenyataan ilmiah adalah bahwa kekuatan berbanding terbalik dengan waktu, semakin besar kekuatan, semakin sedikit waktu yang dibutuhkan. Bagaimana jika kekuatan ini adalah kekuatan dari Allah yang Mahabijaksana? Oleh karena itu, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi diisrakan dan diangkat ke langit dan kembali, dengan tempat tidurnya tetap hangat.

lanjut di sesi : ushulian

0 Komentar

Posting Komentar