Isra' Mi'raj; Ibrah Sebuah Perjalanan

 


Oleh: Sheikh Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi

Deskripsi Isra' Mi'raj

Alat transportasi yang digunakan adalah Buraq, yang dibawa oleh Malaikat Jibril. Nabi di antara para nabi memimpin salat di Masjid Al-Aqsa, kemudian naik ke surga, melihat penghuni surga dan melihat penghuni neraka. Ketika beliau melihat para penghuni surga, beliau melihat laki-laki yang menanam di satu hari dan menuai di hari lain, setiap kali menuai, tanaman itu kembali seperti semula. Nabi bertanya, "Siapa mereka, wahai Jibril?" Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah; Allah akan memberikan penggantian atas setiap yang mereka belanjakan" [Al-Saba': 39].

"Tidaklah ada satu hari pun pada saat pagi tiba, melainkan dua malaikat turun. Salah satunya berkata: "Ya Allah, berilah pengganti bagi orang yang menahan hartanya", sedangkan yang satunya lagi berkata: "Ya Allah, berilah keberkahan bagi orang yang menginfakkan hartanya". ([HR. Bukhari])

Dan umat kami ketika mereka meninggalkan jihad karena merasa cukup hanya dengan harta mereka sendiri, Allah menjadikan mereka tunduk pada hinaan yang tak ada bandingannya, sehingga orang-orang rendahan dari makhluk Allah menguasai mereka.

"Katakanlah: "Dia-lah Yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu dari atas kamu atau dari bawah kakimu, atau mengacaukan fikiranmu dengan perselisihan (antara sesama) dan membiarkan kamu saling membunuh". [QS. Al-An'am : 65]

Ibnu Katsir berkata: "Yang dimaksud 'dari atas kamu' adalah petir, sedangkan 'dari bawah kakimu' adalah orang-orang hina dari kalangan manusia yang akan menundukkan kamu." ([Tafsir Ibnu Katsir])

 Rasulullah melihat sekelompok orang yang merunduk dengan batu di atas kepala mereka, lalu beliau bertanya, "Siapa mereka, wahai Jibril?" Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang malas dalam melaksanakan shalat." [4]

Kita melihat orang-orang dengan akal dan kepala yang cerdas, yang senantiasa menghargai setiap kesempatan untuk meningkatkan kekayaan mereka, yang bangun pagi dan kembali larut malam, tetapi mereka melupakan janji mereka dengan Allah di hadapan-Nya dalam lima waktu shalat. Kepala-kepala seperti ini tidak memiliki bobot atau harga di mata Allah, dan pantas mendapat hukuman lemparan batu di Hari Kiamat. [4]

Rasulullah juga melihat sekelompok orang yang meraba-raba di antara tanaman berduri seperti hewan, lalu beliau bertanya, "Siapa mereka, wahai Jibril?" Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang tidak membayar zakat." [5]

Bagaimana seseorang yang kaya dan muslim dapat merosot ke tingkat kehewan-hewanan ketika mereka kehilangan rasa persaudaraan, belas kasihan, dan kasih sayang terhadap orang lemah dan miskin? Orang seperti ini pantas untuk dikumpulkan di Hari Kiamat dalam bentuk hewan. [5]

((Dan Nabi melihat sekelompok orang makan daging yang busuk dan di hadapan mereka ada daging yang lezat dan matang. Beliau bertanya: "Siapa mereka, wahai Jibril?" Jibril menjawab: "Mereka adalah orang-orang dari umatmu yang memiliki istri yang halal namun mereka mengunjungi wanita busuk hingga pagi.")) ([6])

((Dan Nabi melihat beberapa wanita yang menggantungkan payudara mereka. Beliau bertanya: "Siapa mereka, wahai Jibril?" Jibril menjawab: "Mereka adalah wanita-wanita yang berselingkuh dengan pria yang bukan suaminya.")) ([7]) Kebanggaan terbesar dari seorang pria adalah rasa cemburu dan kebanggaan terbesar dari seorang wanita adalah rasa malu. Namun tanda akhir zaman adalah hilangnya semua itu, seperti yang disebutkan dalam hadis: (Pada akhir zaman, Allah akan mengangkat empat hal dari bumi: berkah, keadilan dari pemimpin, rasa malu dari wanita, dan rasa cemburu dari kepala pria.) Generasi masa depan yang gelap yang kita alami sekarang, yang sibuk mencari pandangan yang haram, sentuhan yang haram, dan kesenangan yang haram. Generasi ini lebih jahil dari zaman jahiliyah, seperti yang digambarkan oleh Antarah Al-Jahiliyyah dalam keperjakaannya ketika ia berkata:

"Aku menundukkan pandanganku jika melihat tetanggaku, hingga tetanggaku berlindung di tempat persembunyiannya."

((Ketika Nabi mengikat janji dengan wanita-wanita Mekah untuk tidak berzina atau mencuri, Hindun binti Utbah menutupi wajahnya dan berkata, "Apakah seorang wanita merdeka harus berjanji untuk tidak berzina, wahai Rasulullah?")) ([8]) Dia menolak untuk berjanji atas sesuatu yang ditolak oleh wanita merdeka, apalagi seorang wanita Muslim.


Lanjut sesi III : ushulian

0 Komentar

Posting Komentar