Kemuliaan Foto Ulama dalam Kalender



Beberapa pondok pesantren membuat kalender tahunan yang menampilkan foto-foto ulama dan habaib yang dipuja dan dikagumi oleh para santri. Namun, setelah masa kalender itu sudah tidak berlaku lagi, seringkali para santri melakukan beberapa hal yang kurang tepat terhadap kalender tersebut seperti membuang ke tong sampah, menggunting-gunting bagian foto, atau menggunakannya sebagai sampul kitab.

Dalam Islam, menghormati sosok ulama adalah hal yang sangat penting. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana ulama dikenal sebagai orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam beragama. Dalam pandangan Islam, foto ulama dalam kalender termasuk kategori muadzom (sesuatu yang harus dimuliakan) karena menunjukkan sosok ulama yang harus dihormati.

Namun, terkadang ada beberapa tindakan yang dilakukan oleh santri atau masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Salah satunya adalah membuang kalender tersebut ke tempat sampah. Menurut pandangan beberapa ulama, perbuatan ini dianggap haram karena merupakan bentuk pelecehan.

Berbeda dengan tindakan membuang, menggunting kalender dengan tujuan sebagai bahan dekor diperbolehkan sebab tidak ada unsur izdiro (melecehkan) dan bukan termasuk tamziq (menyobek-nyobek). Namun, jika pengguntingan tersebut mengesankan pelecehan seperti memotong wajah, maka hukumnya haram.

Sedangkan mengenai tindakan menggunakan kalender sebagai sampul kitab, hukumnya diperselisihkan di kalangan ulama. Menurut Imam Ibnu Hajar, hukumnya haram. Akan tetapi, menurut Imam Al-Syihab Al Romli, jika ada tujuan tabaruk maka hukumnya makruh. Begitu juga dengan pandangan Imam Ibnu Qosim yang memperbolehkan tindakan tersebut asalkan tidak ada tujuan melecehkan dan agar yang terkena kotoran adalah sampulnya bukan kitab.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa memuliakan foto ulama dalam kalender adalah hal yang sangat penting dalam perspektif Islam. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam melakukan tindakan terhadap kalender tersebut agar tidak melanggar hukum syariat.

 

Referensi:

1.      Hasyiyah al-Bujairomi ala al-Khotib

2.      Tuhfah al-Muhtaj

3.       Al-Ghuror al-Bahiyyah

إسعاد الرفيق الجزء الأول صـ: 61

(وحاصل أكثر تلك العبارة) التي ذكرها ذانك الإمامان (يرجع إلى أن كل عقد) بفتح أوله وسكون ثانيه أي اعتقاد (أو فعل أو قول) موصوف كل واحد منها بكونه (يدل على استهانة) ممن صدر منه (أو استخفاف بالله) سبحانه وتعالى (أو) بشيء من (كتبه) المائة والأربعة المارة (أو) بأحد من (أنبيائه) وفي نسخة بخط المؤلف أو رسله والأولى أعم (أو ملائكته) المجمع عليهم كما مر (أو) بشيء من (شعائره) جمع شعيرة وهي العلامة أي علامات دينه كالكعبة والمساجد فقوله رحمه الله تعالى (أو معالم دينه) بمعنى الشعائر كما قاله السيوطي (أو) بشيء من (أحكامه) تعالى أي أحكام دينه كالصلاة والصوم والحج والزكاة (أو) بشيء من (وعده) بالثواب للمطيع (أو) من (وعيده) بالعقاب لمن كفر به وعصاه (كفر) خبر أن أى إن قصد قائل ذلك الاستخفاف أو الاستهزاء بذلك أو معصية محرمة شديدة التحريم إن لم يقصد ذلك

 

0 Komentar

Posting Komentar