Iqdul
Zabarjad adalah sebuah karangan dari al-‘Alim al-Fadhil Syaikh Abdul Wahhab bin
Ahmad bin Barakaat ath-Thanthawi al-Mishri asy-Syafie al-Ahmadi, seorang ulama
sufi pada abad ke-12 Hijriyah. Beliau merupakan syaikh dari Thariqat as-Sajadah
al-Ahmadiyyah, sebuah cabang Thariqah Ahmadiyyah al-Badawiyyah yang didirikan
oleh Sidi Ahmad al-Badawi radhiyaAllahu ‘anhu. Pada halaman 127 dari
karangannya, beliau menulis tentang keberadaan syaitan dan bagaimana cara untuk
melindungi hati dari godaannya.
Menurut
Syaikhul Islam Sirajuddin al-Bulqini, syaitan merupakan seperti anjing bagi
orang mukmin yang senantiasa mengintai kesempatan untuk menerpa hati dan
sanubari mereka. Namun, selama hati orang mukmin itu sibuk dengan mengingati
Allah (dzikrullah), maka syaitan akan menjauhkan dirinya. Namun, ketika hati
mukmin tersebut alpa dan lalai dalam mengingati Allah, syaitan akan menerkam
hatinya dengan lahap dan mengotorinya.
Namun,
jika seseorang mukmin membaca Sayyidul Istighfar, yang terdiri dari tujuh
kalimah, maka hatinya akan terlindungi dari godaan syaitan tersebut. Tujuh
kalimah tersebut terkandung dalam Sayyidul Istighfar, yang merupakan doa untuk
memohon keampunan dari Allah. Kalimah-kalimah tersebut antara lain adalah
pengakuan rububiyyah dan uluhiyyah hanya bagi Allah, pengakuan bahwa kita
adalah hamba yang diciptakan Allah, pengakuan bahwa kita akan tunduk dan patuh
atas segala hukum-hakam yang ditetapkan Allah, memohon perlindungan Allah dari
segala kesalahan yang telah kita lakukan, pengiktirafan kita bahwa segala
nikmat yang telah kita peroleh adalah anugerah kurniaan Allah, pengakuan atas
segala dosa kesalahan yang telah kita lakukan, serta permohonan keampunan
daripada Allah kerana hanya Dialah berhak mengampunkan segala dosa.
Dalam
karangannya, Syaikh Abdul Wahhab bin Ahmad bin Barakaat ath-Thanthawi al-Mishri
asy-Syafie al-Ahmadi juga menyertakan syair yang ditulis oleh anaknya, Syaikh
Jalaluddin. Syair tersebut menyatakan bahwa ketika syaitan menerpa hati yang
alpa, maka hati tersebut perlu segera disucikan dengan memohon perlindungan
dari Allah dan memandang ajaran sunnah sebagai panduan dalam hidup.
Dengan
demikian, melalui pembacaan Sayyidul Istighfar dan panduan dari ajaran sunnah,
hati kita dapat terlindungi dari godaan syaitan yang senantiasa mengintai
kesempatan untuk menerpa hati dan sanubari kita. Kita juga perlu selalu
mengingat Allah dalam setiap langkah hidup kita agar syaitan tidak dapat
menerkam hati kita dengan lahap dan mengotorinya.
Bacaan sayyidul istighfar adalah sebagai berikut:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى
عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ،
أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ
فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
"Hai
Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang
menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai
perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang
kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui
dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain
Engkau." (HR. Bukhari).*
0 Komentar