Dalam perjalanan hidup, manusia memerlukan bimbingan agar dapat mencapai tujuan hidup yang diinginkan. Salah satu bentuk bimbingan adalah berguru atau menjadi murid dari seorang Syeikh. Namun, menjadi murid tidak hanya sekedar belajar ilmu, tetapi juga membangun hubungan yang baik dengan Syeikh sebagai guru. Hubungan ini harus dilandasi dengan etika yang baik agar terjalin komunikasi yang efektif dan hubungan yang harmonis.
Allah SWT dalam kisah Nabi Musa AS bersama al-Khidhr AS dalam surat Al-Kahfi ayat 66-78 memberikan pelajaran penting mengenai etika dalam berhubungan dengan Syeikh. Nabi Musa AS memohon izin pada al-Khidhr AS untuk berguru dan al-Khidhr AS menetapkan syarat agar Nabi Musa AS tidak menentangnya dalam segala hal dan tidak mengajukan protes atas keputusannya. Namun, ketika Nabi Musa AS mulai kontra terhadap al-Khidhr AS, maka terjadilah perpisahan. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW menyatakan bahwa orang muda yang tidak menghormati seorang guru karena usianya, maka Allah akan menakdirkan baginya agar orang akan menghormati dirinya saat usianya sudah tua.
Dalam konteks hubungan antara Syeikh dan murid, etika harus dijaga agar tidak terjadi pertentangan yang berakibat terputusnya hubungan. Salah satu syeikh menyatakan bahwa awal segala perpisahan adalah pertentangan. Jika murid kontra dengan Syeikhnya, maka ia tidak menetapi tharikatnya dan hubungan antara keduanya akan terputus, walaupun keduanya terkumpul dalam satu bidang tanah. Oleh karena itu, bagi orang yang berguru kepada salah satu Syeikh, jika dalam hatinya ada konflik, maka janji pertalian guru dan murid telah rusak dan ia wajib bertaubat.
Syeikh juga perlu dihormati dan tidak boleh disakiti. Seorang syeikh menyatakan bahwa menyakiti para guru tidak ada lagi taubatnya. Dalam konteks ini, para murid harus memperhatikan tindakan dan ucapan mereka agar tidak menyakiti hati Syeikh.
Ketika berguru, murid juga harus memperhatikan perasaan hati Syeikh. Sebagai murid, tidak boleh menganggap rendah Syeikh. Abdullah ar-Razy dalam kisahnya dengan Abu Utsman Sa’id al-Hiry menyatakan bahwa tidak seorang pun yang menganggap rendah seseorang melainkan ia terhalang dari sari faedah. Oleh karena itu, sebagai murid, harus menghormati Syeikh dan menganggapnya sebagai orang yang memiliki kelebihan dan kebijaksanaan.
Ketika Syeikh meminta sesuatu, maka murid harus memenuhi kebutuhan tersebut dengan cepat. Sikap inilah yang akan membuat Syeikh merasa dihargai dan dihormati. Namun, sebagai murid juga harus memperhatikan bahwa hubungan dengan Syeikh bukan sekadar untuk memperoleh manfaat, tetapi juga untuk membangun hubungan yang harmonis dan saling menghormati. Kedekatan yang terjalin antara Syeikh dan murid sangat penting dalam membentuk karakter dan sikap murid.
Dalam hubungan antara Syeikh dan murid, kerendahan hati juga sangat penting. Seorang Syeikh yang diusir dari daerahnya, Muhammad ibnul Fadhl al-Balkhy, mendoakan penduduk Balkh agar kejujuran cegah dari mereka. Setelah itu, tak seorang pun yang jujur muncul dari daerah Balkh. Dalam hal ini, Syeikh menunjukkan sikap yang rendah hati dan tidak sombong meskipun diusir dari daerahnya.
Dalam menjaga perasaan hati Syeikh, murid juga harus memperhatikan keputusan Syeikh. Syeikh adalah orang yang memiliki kebijaksanaan dan pengalaman. Oleh karena itu, murid harus menghormati keputusan Syeikh dan tidak menentangnya. Jika murid menentang keputusan Syeikh, maka hubungan antara keduanya bisa terputus dan murid akan kehilangan bimbingan dan arahan dari Syeikh.
Dalam menghadapi situasi sulit atau konflik dengan Syeikh, maka murid harus memperhatikan etika dalam menyelesaikan masalah tersebut. Ketika terjadi konflik, maka murid harus menghindari kontra pada Syeikh lebih dari tiga kali. Kontra lebih dari tiga kali merupakan batas minim dari jumlah banyak dan awal dari batas banyak. Jika konflik tidak dapat diselesaikan, maka terjadilah perpisahan antara Syeikh dan murid.
Dalam mengakhiri hubungan dengan Syeikh, murid juga harus memperhatikan etika. Ketika memutuskan hubungan dengan Syeikh, maka harus dilakukan dengan cara yang baik dan tidak menyakiti hati Syeikh.
Kesimpulannya, menjaga perasaan hati Syeikh merupakan hal yang sangat penting dalam hubungan antara Syeikh dan murid. Etika yang baik harus dijaga agar terjalin hubungan yang harmonis dan saling menghormati. Dalam menjaga perasaan hati Syeikh, murid harus memperhatikan tindakan dan ucapan mereka agar tidak menyakiti hati Syeikh. Sikap rendah hati dan menghormati Syeikh juga penting dalam membentuk karakter dan sikap murid. Oleh karena itu, sebagai murid, harus belajar untuk menghormati Syeikh dan memperhatikan keputusan Syeikh. Jika terjadi konflik, maka harus diselesaikan dengan etika yang baik dan jika terpaksa memutuskan hubungan dengan Syeikh, maka harus dilakukan dengan cara yang baik dan tidak menyakiti hati Syeikh.

0 Komentar