Al-Qur’an adalah kitab suci umat
Islam yang berisi petunjuk, peringatan, ancaman, dan janji Allah . Al-Qur’an
juga merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad yang tidak ada tandingannya. Membaca al-Qur’an
adalah salah satu ibadah yang sangat mulia dan bermanfaat bagi orang yang
melakukannya. Namun, apakah kita membaca al-Qur’an dengan hati yang khusyu’ dan
merasakan keagungan ayat-ayat-Nya? Apakah kita menangis ketika membaca
al-Qur’an karena takut akan azab Allah atau harap akan rahmat-Nya?
Menangis ketika membaca al-Qur’an
merupakan salah satu sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah dan para ulama. Menangis ketika membaca
al-Qur’an menunjukkan keimanan, keikhlasan, dan kerendahan hati seseorang di
hadapan Allah . Menangis ketika membaca al-Qur’an juga merupakan sifat
orang-orang yang arif dan shaleh, sebagaimana firman Allah : “Dan mereka
menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’."
(QS. Al-Isra’ [17]: 109) hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam an-Nawawi (w.
676 H) di dalam at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur'an.
Rasulullah bersabda: “Jika kalian membaca al-Qur’an, maka
menangislah. Jika tidak menangis, maka usahakanlah supaya menangis.” (HR. Ibn
Majah) Hadits ini menunjukkan bahwa menangis ketika membaca al-Qur’an adalah
sesuatu yang dicintai oleh Allah dan
Rasul-Nya. Jika seseorang tidak bisa menangis karena hatinya keras atau
terbiasa dengan dosa, maka ia harus berusaha untuk menangis dengan cara
merenungkan makna ayat-ayat al-Qur’an, mengingat dosa-dosa yang telah
dilakukan, dan memohon ampun kepada Allah .
Imam al-Ghazali (w. 505 H) di dalam
Ihya’ 'Ulum ad- Din mengatakan: “Cara untuk dapat menangis adalah menghadirkan
kesedihan di dalam hati dengan merenungkan peringatan dan ancaman keras serta
janji-janji yang terdapat di dalamnya, kemudian merenungi dosa-dosa yang
terlanjur diperbuat. Jika tidak juga timbul kesedihan dan tangisan sebagaimana
dialami oleh orang-orang terpilih, maka hendaklah dia menangis atas kegagalan
itu sehingga tidak bisa bersedih dan menangis, karena hal itu termasuk musibah
yang besar.”
Ada beberapa ulama lain yang juga memberikan pandangan
tentang menangis ketika membaca al-Qur’an. Berikut ini adalah beberapa di
antaranya:
Imam al-Qurtubi (w. 671 H) di dalam kitab tafsirnya Al-Jami’
li Ahkam al-Qur’an mengatakan: "Menangis ketika membaca al-Qur’an adalah
salah satu tanda keimanan dan kecintaan kepada Allah . Sebagaimana firman-Nya:
"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Yang Maha Pemurah, mereka
sujud dan menangis." (QS. Maryam [19]: 58) Dan firman-Nya: "Dan
apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, kamu mengetahui di
wajah-wajah orang-orang yang kafir itu, mereka hampir-hampir menyerang
orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka. Katakanlah kepada
mereka: "Maka apakah aku akan memberitahukan kepadamu tentang sesuatu yang
lebih buruk daripada itu? Yaitu neraka yang dijanjikan Allah kepada orang-orang
kafir; itulah seburuk-buruk tempat kembali." (QS. Al-Hajj [22]: 72) Ini
menunjukkan bahwa orang-orang kafir tidak menangis ketika mendengar al-Qur’an,
bahkan mereka marah dan benci, sedangkan orang-orang mukmin menangis karena takut
dan harap kepada Allah ."
Imam Ibnul Qayyim (w. 751 H) di dalam kitabnya Madarijus
Salikin mengatakan: "Menangis ketika membaca al-Qur’an adalah salah satu
buah dari memahami dan merenungkan makna ayat-ayat-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?"
(QS. Muhammad [47]: 24) Dan firman-Nya: "Dan Kami turunkan dari al-Qur’an
suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan
al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain
kerugian." (QS. Al-Isra’ [17]: 82) Ini menunjukkan bahwa al-Qur’an
memiliki efek yang berbeda-beda tergantung pada kondisi hati orang yang
mendengar atau membacanya. Jika hatinya bersih dan terbuka, maka al-Qur’an akan
menjadi penawar dan rahmat baginya, dan ia akan menangis karena tersentuh oleh
ayat-ayat-Nya. Jika hatinya kotor dan tertutup, maka al-Qur’an akan menjadi
kerugian baginya, dan ia tidak akan merasakan apa-apa dari al-Qur’an."
Imam as-Suyuti (w. 911 H) di dalam
kitabnya Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur’an mengatakan: "Menangis ketika membaca
al-Qur’an adalah salah satu cara untuk mendapatkan pahala dan keutamaan dari
Allah . Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah bersabda: "Tidak ada seorang pun yang
membaca al-Qur’an kemudian matanya meneteskan air mata karena takut kepada
Allah, melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya." (HR. at-Tirmidzi)
Dan hadits dari Abdullah bin Umar ra. bahwa Rasulullah bersabda: "Bacalah al-Qur’an dengan suara
merdu, karena suara yang merdu akan membuat hati menjadi lembut. Dan bacalah al-Qur’an
dengan menangis, karena menangis akan membuat hati menjadi rendah." (HR.
ad-Darimi) Ini menunjukkan bahwa menangis ketika membaca al-Qur’an adalah salah
satu bentuk ibadah yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, dan salah satu sebab untuk mendapatkan
ampunan dan rahmat dari Allah ."
Menangis ketika membaca al-Qur’an
bukanlah tanda lemah atau pengecut, tetapi justru tanda kuat dan berani. Karena
menangis ketika membaca al-Qur’an berarti seseorang mengakui kelemahan dirinya
di hadapan Allah dan memohon
pertolongan-Nya. Menangis ketika membaca al-Qur’an juga berarti seseorang
bersyukur atas nikmat-nikmat yang Allah berikan dan berharap agar tetap
mendapatkannya. Menangis ketika membaca al-Qur’an juga berarti seseorang
mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari
segala sesuatu.
Oleh karena itu, marilah kita
menghidupkan kembali sunnah yang terlupakan ini. Marilah kita membaca al-Qur’an
dengan hati yang khusyu’ dan menangis ketika membaca al-Qur’an. Semoga dengan
demikian, kita mendapatkan keberkahan, hidayah, rahmat, dan maghfirah dari
Allah . Aamiin.

0 Komentar