Kisah Maryam al-Adhra

 

Maryam al-Adhra (bahasa Arab: مريم العذراء) adalah nama yang diberikan kepada ibu Nabi Isa (as) dalam Islam. Dia adalah seorang wanita suci, saleh, dan beriman yang dipilih Allah Ta’ala untuk melahirkan Nabi Isa (as) tanpa seorang ayah. Dia adalah salah satu wanita terbaik dalam sejarah umat manusia, dan dia memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.


Kelahiran dan masa kecil Maryam

Maryam adalah putri dari Imran dan Hannah, dua orang saleh dari Bani Israel. Hannah tidak bisa memiliki anak selama bertahun-tahun, dan dia berdoa kepada Allah Ta’ala untuk memberinya seorang anak yang akan dia persembahkan untuk beribadah di Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsa). Allah Ta’ala mengabulkan doanya, dan dia hamil dengan seorang anak perempuan. Ketika dia melahirkan, dia berkata:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu. “Dan sesungguhnya anak laki-laki tidak sama dengan anak perempuan. Dan sesungguhnya aku telah menamainya Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya dan keturunannya kepada Engkau dari syaitan yang terkutuk.” (QS. Ali Imran: 36)

Allah Ta’ala menerima Maryam sebagai pemberian dari Hannah, dan menjadikannya seorang wanita suci, saleh, dan beriman. Dia juga menjadikan Nabi Zakaria (as), suami dari saudara perempuan Hannah, sebagai wali dan pengasuh Maryam. Nabi Zakaria (as) adalah seorang nabi dan imam dari Bani Israel yang bertanggung jawab atas Baitul Maqdis.

Maryam tumbuh di bawah asuhan Nabi Zakaria (as), dan dia diberi ruangan khusus di Baitul Maqdis untuk beribadah. Allah Ta’ala memberinya banyak karunia dan keajaiban, salah satunya adalah dia selalu mendapatkan rezeki dari Allah Ta’ala tanpa sebab yang diketahui. Nabi Zakaria (as) sering menemukan buah-buahan yang tidak musim di ruangan Maryam, dan bertanya kepadanya:

“Hai Maryam, dari mana kamu mendapat ini?” Maryam menjawab: “Ini dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab." (QS. Ali Imran: 37)

Nabi Zakaria (as) terkesan dengan keistimewaan Maryam, dan dia berdoa kepada Allah Ta’ala untuk memberinya seorang anak laki-laki yang akan mewarisi kenabian dan ilmu darinya. Allah Ta’ala mengabulkan doanya, dan memberinya seorang anak laki-laki yang bernama Yahya (as), yang juga menjadi seorang nabi.

Keajaiban kelahiran Nabi Isa (as)

Ketika Maryam dewasa, dia mendapatkan wahyu dari Allah Ta’ala bahwa dia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi nabi dan rasul. Wahyu ini disampaikan oleh Malaikat Jibril (as), yang datang kepadanya dalam wujud manusia. Malaikat Jibril (as) berkata kepadanya:

“Hai Maryam, sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan sebuah kalimat dari-Nya, namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat, dan termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 45)

Maryam terkejut dengan kabar ini, karena dia adalah seorang wanita perawan yang belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki. Dia bertanya kepada Malaikat Jibril (as):

“Ya Tuhanku, bagaimana aku dapat memiliki anak laki-laki, padahal belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki?” Malaikat Jibril menjawab: “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah dia.” (QS. Ali Imran: 47)

Allah Ta’ala menciptakan Nabi Isa (as) di rahim Maryam dengan kekuasaan-Nya, tanpa seorang ayah. Ini adalah keajaiban yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah Ta’ala, yang tidak terbatas oleh sebab dan akibat. Allah Ta’ala telah menciptakan Nabi Adam (as) tanpa seorang ayah dan ibu, Nabi Hawa (as) tanpa seorang ibu, dan Nabi Isa (as) tanpa seorang ayah.

Maryam menerima kabar ini dengan iman dan tunduk kepada kehendak Allah Ta’ala. Dia mengasingkan diri dari orang-orang, dan pergi ke tempat yang jauh untuk melahirkan anaknya. Ketika dia merasakan sakit bersalin, dia berlindung di bawah pohon kurma, dan meratap kesedihannya. Allah Ta’ala menenangkan dan memberinya petunjuk melalui Malaikat Jibril (as), yang berkata kepadanya:

“Dan janganlah kamu bersedih hati. Dan janganlah kamu berduka cita. Dan janganlah kamu takut dan berhuzun. Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan dibawah kamu sebuah sungai. Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makanlah, minumlah, dan bersenang hatilah.” (QS. Maryam: 24-26)

Maryam mengikuti perintah Allah Ta’ala, dan dia mendapatkan rezeki dari pohon kurma dan sungai. Dia melahirkan anaknya dengan mudah, dan memeluknya dengan kasih sayang. Anak itu adalah Nabi Isa (as), yang diberkahi oleh Allah Ta’ala dengan banyak mukjizat.

Kembalinya Maryam ke kaumnya

Setelah melahirkan anaknya, Maryam kembali ke kaumnya dengan membawa bayi di tangannya. Kaumnya terkejut dan menuduhnya telah berbuat zina, karena mereka tidak mengetahui rahasia Allah Ta’ala. Mereka berkata kepadanya:

“Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat, dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” (QS. Maryam: 27-28)

Maryam tidak menjawab tuduhan mereka, tetapi dia menunjuk kepada bayinya, sebagai isyarat bahwa dia akan memberikan penjelasan. Kaumnya mengira dia gila, dan berkata:

“Bagaimana kami akan berbicara dengan seorang bayi di dalam ayunan?” (QS. Maryam: 29)

Mereka tercengang ketika bayi itu mulai berbicara dengan izin Allah Ta’ala, dan membela ibunya dari tuduhan palsu. Bayi itu berkata:

“Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku shalat dan zakat selama aku hidup. Dan Dia menjadikan aku seorang yang berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 30-32)

Kaumnya terperanjat dengan mukjizat ini, dan mereka menyadari bahwa Maryam adalah seorang wanita suci yang tidak bersalah dari apa yang mereka tuduhkan. Mereka juga menyadari bahwa bayi itu adalah seorang nabi dan rasul dari Allah Ta’ala, yang datang untuk memberi petunjuk kepada mereka.

Kesimpulan

Kisah Maryam al-Adhra adalah kisah yang mengandung banyak pelajaran dan hikmah bagi umat manusia. Kisah ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan Maryam di sisi Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, sebagai wanita terbaik dalam

Sumber: mawdoo3.com

0 Komentar

Posting Komentar