Seorang Kiai Menyalahkan Bacaan Marhaban


SEORANG KIAI MENYALAHKAN BACAAN MARHABAN
Shalawat adalah hal yang lekat dan akrab di kalangan pondok pesantren. Mereka meyakini, Nabi akan datang saat dibacakan shalawat, terutama saat pembacaan marhaban pada mahallul qiyam. Marhaban biasanya dilagukan saat menjelang akhir bait shalawat dengan berbagai nada. Tetapi ada yang harus hati-hati meletakkan dan menggunakan marhaban. Salah tempat bisa salah arti dan tidak enak didengarkan.
Hal itu yang dialami salah satu grup rebana saat mengiringi Shalawat Mahallul Qiyam. Marhaban yang berarti “selamat datang” diletakkan pada bait yang isinya doa. Salah satu Kiai dari Jawa Timur yang kebetulan mengisi mauidloh hasanah, mengkritik grup rebana tersebut karena salah penempatan.
"jika kalian membaca bait mahallul qiyam dari awal, isinya adalah melambungkan pujian kepada Nabi Muhamammad saw. Itu sangat cocok disisipi marhaban. contoh, pada bait


(ﺃﻧﺖ ﻟﻠﺮﺳﻞ ﺧﺘﺎﻡ (مرحبا مرحبا) ﺃﻧﺖ ﻟﻠﻤﻮﻟﯽ ﺷﮑﻮﺭ (مرحبا مرحبا

Engkau adalah penutup para utusan. [selamat datang Nabi] Engkau adalah orang yang paling banyak bersyukur kepada Allah. [selamat datang Nabi]
Nah, itu tepat anda sisipi dengan kata marhaban.
Tapi seperti yang anda lagukan tadi

(ﻳﺎ ﻭﻟﻲ ﺍﻟﺤﺴﻨﺎﺕ (مرحبا مرحبا) ﻳﺎ ﺭﻓﻴﻊ ﺍﻟﺪﺭﺟﺎﺕ (مرحبا مرحبا

[Wahai Dzat Penguasa kebaikan [selamat datang] wahai Dzat Yang berpangkat Tinggi [selamat datang]

(ﮔﻔﺮ ﻋﻨﻲ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ (مرحبا مرحبا) ﻭﺍﻏﻔﺮ ﻋﻨﻲ ﺍﻟﺴﻴﺌﺎﺕ (مرحبا مرحبا

Hapuskanlah dosa dosa dariku [selamat datang] dan ampunilah kesalahan kesalahanku [selamat datang].
Dua bait ini adalah memanjat doa kepada Allah. Bait ini agak janggal jika diberi kata selamat datang karena yang datang adalah Nabi, bukan Allah. nah, itu salah." Dawuh Kiai Jatim tadi

0 Komentar

Posting Komentar